Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
Live
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
VS
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
VS
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
VS
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Pengusaha Kalbar: Bunga 5,75 Persen Masih Tinggi

Pengusaha asal Kalimantan Barat menilai masih bertahannya BI Rate sebesar 5,75

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan
Memuat video…

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Steven Greatness

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengusaha asal Kalimantan Barat menilai masih bertahannya BI Rate sebesar 5,75 persen membuktikan perekonomian nasional semakin membaik, meskipun diharapkan bisa diturunkan lagi karena dibandingkan dengan negara lain acuan suku bunga Indonesia masih cukup tinggi.

"Secara umum dampak yang timbul tentunya kita harapkan positif karena dengan menurunnya BI rate atau tetap pada level terendah seperti saat ini mengartikan perekonomian kita dimungkinkan untuk berkembang lebih baik. Suku bunga rendah akan menyebabkan murahnya beban biaya kredit yang dikucurkan oleh perbankan," kata Nedy Achmad, pengusaha Kalbar kepada Tribun, Jumat (13/4/2012).

Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), kembali memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Ini berarti kali ketiga bank sentral mempertahankan suku bunga acuan di level terendah sepanjang sejarah. Menurut Gubernur BI, Darmin Nasution, penetapan ini dilatarbelakangi laju inflasi yang masih masuk ke dalam hitungan otoritas moneter.

"Suku bunga rendah hendaknya dipertahankan dalam konteks untuk menggairahkan dunia usaha dan harus dalam waktu yang cukup lama agar dampaknya bisa dirasakan meluas dan dalam jangka panjang," ujarnya.

Nedy menambahkan, jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik bulan depan, otomatis inflasi juga akan meningkat. Besarnya tergantung dari besarnya kenaikan BBM. Apabila inflasi itu sendiri lebih tinggi dari bunga deposito yang ada, masyarakat cenderung akan menggunakan dana mereka untuk investasi yang menghasilkan return lebih besar dari bunga deposito. Dengan begitu, memaksa bank untuk menaikkan suku bunga hanya untuk menghimpun dana masyarakat ke dalam bank, jelasnya.

Pengusaha Properti Kalbar, Aries Senjaya, mengatakan sebaiknya suku bunga dan deposito dan kredit diturunkan lagi agar cost untuk bunga bank rendah, sehingga iklim usaha cukup bagus. "Sebaiknya BI Rate turun, jika naik tidak terlalu ekstrim. Jika turun, cukup bagus untuk mendorong iklim usaha yang dapat meningkatkan perekonomian," imbuhnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut pengusaha lainnya, Iwan Gunawan, bunga acuan atau BI rate yang tetap dan terendah sepanjang sejarah versi BI yakni sebesar 5,75 persen belum memenuhi harapan pengusaha. "Bagi kami pengusaha belumlah dapat memenuhi harapan kami sebagai pelaku usaha di Indonesia. Meskipun kami menyadari dan memahami bahwa jika suku bunga turun dratis juga berdampak pada inflasi," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas