Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Raja Keraton Surakarta Terpaksa Lewat Pintu Belakang

Negosiasi yang dilakukan oleh perwakilan Lembaga Dewan Adat dan perwakilan Hangabehi-Tedjowulan berlangsung buntu

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Dahlan Dahi
Laporan Wartawan Tribun Jogja, Ikrob Didik Irawan

TRIBUNNEWS.COM, SOLO - 

Raja Dwi Tunggal Keraton Surakarta PB XIII Hangabehi dan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan menunggu cukup lama di pintu gerbang masuk utama di Korikamandoengan sebelum bisa masuk keraton.
Wartawan Tribun Jogja(TRIBUNnews.com Network) melaporkan, keduanya berhasil masuk setelah lewat pintu belakang, yakni pintu Sasono Putro Barat.

Hal itu dilakukan karena setelah menunggu sekitar 30-an menit, pintu gerbang utama yang digembok dari dalam tak kunjung dibuka. Sebab, negosiasi yang dilakukan oleh perwakilan Lembaga Dewan Adat dan perwakilan Hangabehi-Tedjowulan berlangsung buntu. Kapolresta Solo Kombes Pol Asjimain dan Dandim 0735 Letkol Inf Widi Prasetijono yang mencoba menengahi juga tak berhasil mencairkan suasana.

Tak ingin menunggu terlalu lama, Hangabehi dan Tedjowulan yang baru saja mengikuti pertemuan bersama Muspida Solo terkait rekonsoliasi langsung menuju ke mobil Pajero Sport AD 7220 AH. Hangabehi duduk di bagian belakang, sedang Tedjowulan duduk depan, samping sopir. Mobil itu melaju pelan ke arah barat dikawal oleh mobil dari Polresta Solo. Mobil Pajero merah itu berhenti tepat di mulut pintu masuk Sasono Putro Barat.

Awalnya pintu masuk tetap tertutup rapat, dikunci dari dalam. Namun setelah di ketok keras beberapa kali, abdi dalem yang ada didalam kemudian membukakan pintu. Mobil yang ditumpangi Hangabehi-Tedjowulan bersama keluarganya itupun bergegas masuk. Satu mobil lagi dibelakangnya juga ikut masuk. "Wartawan dilarang masuk," teriak Bambang Pradotonagoro melarang para wartawan.

Beberapa saat kemudian Kapolres dan Dandim juga ikut masuk. GPH Suryo Wicaksono, adik Hangabehi yang ikut selama proses rekonsoliasi di Jakarta mengaku heran atas ulah yang dilakukan oleh Lembaga Dewan Adat. Bagaimana mungkin seorang raja yang mau pulang ke rumahnya sendiri malah digembok dari dalam. "Ini sudah keterlaluan. Kita bisa masuk lewat Sasono Putro tadi juga karena memaksa," katanya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi Untuk Anda
Sumber: Tribun Jogja
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas