Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Warga Gatal-gatal, Dinkes Abdya Periksa Sampel Air Sungai

Pemeriksaan tersebut merespon keluhan belasan pekerja penambang pasir sepanjang aliran sungai tersebut yang menderita penyakit gatal-gatal

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Dewi Agustina

TRIBUNNEWS.COM, BLANGPIDIE - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengambil sampai air Sungai (Krueng) Teukueh yang mengalir dari Kecamatan Juempa menuju Kecamatan Susoh, untuk diperiksa dilaboratorium.

Pemeriksaan tersebut merespon keluhan belasan pekerja penambang pasir sepanjang aliran sungai tersebut yang menderita penyakit gatal-gatal karena diduga air sungai tercemar limbah pabrik sagu.

Kadinkes Abdya, H Khadry A SH, dihubungi Serambi (Tribun Network), Kamis (31/5/2012) menjelaskan, petugas Bagian P2PL Dinkes turun ke lokasi Jumat (1/6/2012) besok, didampingi petugas puskesmas setempat untuk mengambil sampai air Krueng Teukueh.

"Keluhan warga yang menderita gatal-gatal diduga air sungai tercemar limbah sagu masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium," kata Khadry.

Sebelum diperoleh hasil pemeriksaan sampel air sungai tersebut, Kadinkes Khadry, belum memberi komentar soal penyebab penyakit gatal-gatal yang menyerang pekerja penambang pasir dalam sungai Krueng Teukueh.

"Respon dari kami (dinkes) melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap air sungai yang diduga tercemar limbah sagu," katanya. Hasil pemeriksaan nantinya, juga diserahkan kepada instansi terkait.

Seperti diberitakan, belasan pekerja penambang pasir (galian C) sepanjang aliran Krueng Teukueh, Desa/Gampong Pulau Kayu, Susoh, Kabupaten Abdya mengaku menderita penyakit gatal-gatal. Aliran sungai yang menjadi lahan mereka bekerja diduga tercemar limbah pabrik pengolahan sagu yang dibuang ke dalam aliran sungai di lokasi perbatasan Desa Ikhue Lhueng dengan Desa Asoe Nanggroe, Kecamatan Jeumpa.

Rekomendasi Untuk Anda

Rudi, penambang pasir, didampingi beberapa rekannya kepada Serambi menjelaskan, penyakit gatal-gatal dialami selama kurun waktu beberapa bulan terakhir. Mereka menduga bahwa aliran sungai Krueng Teukueh yang menjadi lahan tempat mencari nafkah saban hari tercemar limbah pabrik sagu yang beroperasi di bagian hulu sungai.

Dugaan tersebut, kata Adi, pekerja lainnya lantaran aliran Krueng Teukueh berubah warna menjadi hitam. Perubahan warna air sungai tersebut setelah limbah pabrik sagu langsung dibuang ke dalam aliran sungai, tanpa proses pengolahan. "Bukan saja penyalit gatal-gatal, beberapa jenis ikan dalam sungai juga mati," ungkap Rudi. (nun)

Baca juga:

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas