Baru Tiga Daerah Setor Modal di Bank Jambi
Dari 12 pemerintah daerah di Jambi, termasuk Pemerintah Provinsi (Pemprov), belum semua menyertakan modal di Bank Jambi pada tahun in
Editor:
Budi Prasetyo
Laporan wartawan Tribun Jambi, Fendry Hasari
TRIBUNNEWS.COM, JAMBI – Dari 12 pemerintah daerah di Jambi, termasuk Pemerintah Provinsi (Pemprov), belum semua menyertakan modal di Bank Jambi pada tahun ini. Hingga kini, tercatat baru tiga daerah yang menambahkan modalnya di bank pelat merah tersebut.
Tiga pemda tersebut adalah, Pemkot Sungaipenuh, Pemkab Kerinci dan Batanghari. Masing-masing memberi suntikan modal sebesar Rp 17,5 miliar, Rp 5,86 miliar dan Rp 3,95 miliar.
Kendati belum semua daerah menambah saham mereka, Direktur Utama Bank Jambi, Subekti Hariyanto optimistis Bank Jambi bisa menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD) regional champion pada 2014. Tapi ia menekankan, bahwa untuk bisa mencapai itu, berbagai pihak terutama pemegang harus saham saling bersinergi.
"Kita harapkan pemrov, pemkab dan pemkot menjalankan komitmen yang mereka sendiri menyetujui dan sudah ditandatangani pada Januari 2011 yang lalu," ungkap Subketi kepada Tribun di ruang kerjanya, Rabu (20/6).
Mengingatkan, Desember tahun lalu seluruh gubernur di Indonesia dan pengurus BPD sepakat mewujudkan BPD menjadi regional champion atau bank lokal terkemuka. Konsekuensinya Bank Pembangunan Daerah (BPD) seperti Bank Jambi harus memiliki modal Rp 1 triliun pada 2014.
Di Jambi pada Januari 2011, diteken komitmen untuk penyertaan modal oleh Pemprov Jambi dan pemerintah kota/kabupaten. Subekti yang mantan Pemimpin Bank Mandiri Cabang Jambi ketika itu belum menjabat Dirut Bank Jambi.
Disinggung belum semua daerah meyertakan modal, menurut Subekti daerah lain akan menyusul. Tidak dapat dipungkiri, jika ada pemegang saham yang tidak penuh menyertakan modalnya. Sementara kesepakatannya adalah pemkab/pemkot tiap tahun menyuntikkan modal sebesar Rp 12,5 miliar dan Rp 50 miliar untuk pemprov.
Menurutnya, pemegang saham akan sangat diuntungkan dengan penyertaan modal tersebut ketimbang deposito. Pada 2011 lalu modal keseluruhan terhimpun sebanyak Rp 208,1 miliar.
Dari modal tersebut, pembagian dividen keseluruhanya sebesar Rp 66,3 miliar. “Kalau di depositokan tidak sampai sebanyak itu karena pemberian suku bunga hanya 6,5 persen. Kalau dividen sebesar Rp 66,3 persen, bisa dikatakan suku bunganya sebesar 31,68 persen, jauh sekali perbandinganya,” ulasnya.
Terkait adanya kritik dari sejumlah DPRD tentang penyertaan modal, Bank Jambi bersedia menjelaskan jika pemerintah daerah menginginkan. (dry)