TKI Tewas di Malaysia: Muka Hancur, Dada Dijahit
Kampung itu ramai oleh suara microphone untuk mengatur begitu banyak warga yang datang melayat.
Editor:
Dahlan Dahi
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Suhendra Yusri
TRIBUNNEWS.COM, SAMBAS - Seorang lagi tenaga kerja Indonesia (TKI) tewas mengenaskan di Malaysia. Kali ini korbannya seorang wanita berusia 35 tahun bernama Rosita.
Ibu rumah tangga itu meninggal di Bintulu Batu, Malaysia Timur, Selasa (10/7/2012) sekitar pukul 17.00 waktu setempat.
Jenazah almarhumah tiba di kampungnya, Dusun Serati, RT 6/RW 03 Desa Bakau, Kecamatan Jawai, Sambas, Kalimantan Barat, Selasa (17/7/2012) sekitar pukul 15.30 WIB.
Wartawan Tribun Pontianak (TRIBUNnews.com Network) melaporkan, jenazah tiba dalam kondisi bagian dada di jahit, sementara mukanya hancur.
Holdi (62), ayah korban, meminta Pemerintah Indonesia dan Malaysia menjelaskan penyebab kematian anaknya.
Kondisi tubuh almarhumah tidak wajar. "Saya tidak tega melihatnya," katanya sambil menangis.
Suami korban, Bustami, juga tak kuasa menahan tangis menerima istrinya pulang kampung dalam kondisi sudah menjadi mayat.
Jenazah korban tiba di rumah duka menggunakan mobil Toyota Innova bewarna silver dan dikawal petugas Satlantas Polres Sambas.
Peti jenazah korban bewarna merah maron tampak kokoh dan ditempel surat resmi dari pihak rumah sakit Malaysia.
Suasana rumah korban sangat ramai. Ribuan orang memadati rumah duka. Kampung itu ramai oleh suara microphone untuk mengatur begitu banyak warga yang datang melayat.
"Saya ikhlas atas kepergian anak saya, namun saya minta kepada pihak kepolisian Malaysia dan Pemerintah Indonesia untuk mengusut penyebab kematian anak sayai," ujar Holdi kepada wartawan di rumah duka.
"Saya sudah lihat kondisi tubuh anak saya sudah ada bekas jahitan dibagian dadanya, mungkin bekas autopsi tapi untuk bagian wajahnya hancur, saya tidak tega melihat kondisinya. Sampai saat ini saya belum dapat pemberitahuan resmi terkait hasil autopsi anak saya," katanya.
*) Berita selengkapnya di edisi cetak Tribun Pontianak, Rabu (18/7/2012)
Baca tanpa iklan