Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Semarak Lampu Tujuh Likur Hanya Ada di Malam 27 Ramadan

Kemeriahan tujuh likur dengan segala lampu likur di Desa Mancung Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung cukup semarak

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina

Laporan Wartawan Bangka Pos, Riyadi

TRIBUNNEWS.COM, BANGKA - Kemeriahan tujuh likur dengan segala lampu likur di Desa Mancung Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung cukup semarak. Kemasannya, terdiri dari tampilan bambu dan kaleng atau botol, dengan bahan bakar minyak tanah.

Hal itu terpantau Bangkapos.com (Tribun Network) hingga Kamis (16/8/2012) dini hari saat acara Malam Wisata dan Budaya Tujuh Likur di Desa Mancung Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat. Tujuh likur dengan segala lampu 'minyak tanah' yang jumlahnya mencapai belasan ribu ini, hanya ada di Desa Mancung setiap malam 27 bulan Ramadan.

"Lampu tujuh likur, mengedepankan kreativitas masyarakat kami, tidak hanya sekadar membuat gemerlap dan menghiasai, menerangi kampung kami saja," ujar Herri kepada bangkapos.com Kamis (15/8/2012) dini hari.

Lebih jauh, kemasannya juga menarik seperti Gerbang Likur, merupakan sebuah kreativitas tinggi masyarakat di Desa Mancung.

"Kemeriahan tujuh likur dengan segala lampunya berbeda dengan kemeriahan lampu di Pekan Raya Jakarta (PRJ)," ujar Herri.

Menurutnya, susunan lampu likur di setiap gerbang likur memiliki pesan dan makna religius seiring momentum Bulan Ramadan.

Rekomendasi Untuk Anda

Sejauh ini lampu di PRJ, menggunakan teknologi dan listrik yang sudah relatif canggih. Tidak demikian halnya dengan budaya tujuh likur di Desa Mancung yang hnaya menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Baca Juga:

Sumber: Bangka Pos
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas