Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Tradisi Garebeg Syawal Keraton Kasunanan Surakarta

Begitu pula saat Lebaran tahun ini, tradisi ratusan tahun itu kembali dihelat, Senin (21/08/2012).

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Budi Prasetyo

Laporan Wartawan Tribun Jogya/ Ade Rizal

TRIBUNNEWS.COM SOLO - Pelaksanaan tradisi Garebeg Syawal oleh Keraton Kasunanan Surakarta selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Kota Solo maupun wisatawan dari luar kota. Tradisi berebut bahan makanan yang dirangkai dalam sebuah tumpeng raksasa atau yang disebut Gunungan itu dilaksanakan tiga kali setahun, yakni saat Idul Fitri, Idul Adha dan Tahun Baru Hijriyah. Begitu pula saat Lebaran tahun ini, tradisi ratusan tahun itu kembali dihelat, Senin (21/08/2012).

Sebelum diperebutkan warga, gunungan tersebut dikirab dari keraton menuju ke Masjid Agung untuk didoakan. Hanya berselang beberapa menit setelah didoakan, ribuan pengunjung langsung menyerbu Gunungan yang berisi sayur-sayuran tersebut. Tak mau ketinggalan, Jonny (28) seorang pria asal Jakarta ikut berdesak-desakan dengan warga lainnya memperebutkan isi Gunungan.

Dirinya ikut berebut isi Gunungan meski mengaku tidak mengetahui maksud dan makna dari Gunungan yang ia perebutkan tersebut. Pengalaman berebut gunungan merupakan yang pertama baginya dan sangat mengesankan. "Saya terus terang tidak tahu maksudnya apa dan ini harus diapakan. Cuma saya dengar kalau ini bisa membawa berkah dan menjadi tolak bala. Jadi tadi ikut-ikutan saja, nggak tahunya dapat kacang panjang," katanya.

Sesuai tradisi, keraton membuat dua gunungan, yakni Gunungan Jaler dan Estri sebagai simbol pasangan laki-laki dan perempuan. Gunungan Jaler diperebutkan atau digarebeg di halaman Masjid Agung, sementara Gunungan Estri digarebeg di halaman Keraton Kasunanan Surakarta oleh para Abdi Dalem. Hanya dalam hitungan menit, gunungan yang berisi kacang panjang, tumpeng, kluwih, lombok merah habis diperebutkan.

Meski Gunungan Estri khusus diperuntukkan bagi abdi dalem, tak jarang ada beberapa abdi dalem yang tidak kebagian isi gunungan.Satu di antaranya Poniyem, yang akhirnya rela mengais sisa-sisa isi gunungan di tanah. "Ini untuk tolak bala. Tiap tahun saya pasti kesini untuk ikut ngalap berkah," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Pengageng Sasana Wilapa, KP Winarno Kusumo mengatakan, gunungan tersebut merupakan wujud syukur keraton saat perayaan Lebaran. Dijelaskan Winarno, gunungan Idul Fitri mempunyai filosofi lambang kesuburan dengan adanya gunungan perempuan dan laki-laki. "Jadi, gunungan ini diamini bersama dan didoakan bersama untuk kesejahteraan, keselamatan bagi raja, keluarga, warga keraton dan abdi dalem dan Negara Indonesia," lanjutnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain itu, lanjut dia, dalam setiap isi dari gunungan tersebut mempunyai makna yang beragam, di antaranya yakni tumpeng yang berbentuk lancip artinya permohonan dan syukur manusia berujung pada satu titik tertinggi yakni Tuhan. "Kemudian di dalam gunungan itu ada makanan kluwih. Dimaksudkan sebagai doa agar kita mendapatkan sesuatu yang berlebih," sambungnya. Keberadaan Gunungan tersebut sampai saat ini memang masih memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Kota Solo dan sekitarnya. (ade)

Baca Juga :

Sumber: Tribun Jogja
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas