Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Malali 10 Menit Bertarung Dengan Buaya

Berniat berburu labi-labi (sejenis bulus), Malali dan kawan-kawan malah bertemu buaya

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, MUARA BULIAN - Berniat berburu labi-labi (sejenis bulus), Malali dan kawan-kawan malah bertemu buaya. Beruntung, dia berhasil menyelamatkan diri setelah sempat bergumul dengan hewan berdarah dingin itu. Kejadian di Sungai Sokalado, Kecamatan Batin XXIV, belum lama ini.

Malali tak menyangka benda yang dikiranya labi-labi ternyata kepala buaya. Kaget, dia melawan buaya hingga tubuhnya tercabik-cabik. Kini Malali terbaring lemas di RS Hamba, dengan selang terpasang lengannya. Perban menempel di sekujur tubuhnya, menutup jahitan bekas luka cabikan buaya.

Dua pria menemani pria berambut panjang itu di rumah sakit. Ketiganya orang rimba (suku anak dalam) yang berdiam di TN Bukit Dua Belas. Bopalang, seorang di antara mereka mengatakan, Selasa petang, mereka berhadapan dengan seekor buaya di Sungai Sokalado, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari.

"Malali mengira kepala buaya itu labi-labi. Dia langsung menombaknya,” ucapnya.

Tombak itu, lanjutnya, menghujam sangat keras hingga patah. Tiga kawan Malali, yakni Bopalang, Nyelang, dan Neden melihat langsung kejadian, karena sama-sama mencari labi-labi. "Saya ikut melihat tombak itu patah, dan baru kami tahu yang ditombak itu adalah buaya,” ucap Bopalang.

Seandainya tahu itu buaya, dia mengaku tak akan mengganggunya. Dia terkejut melihat sasaran ternyata buaya. Buaya yang terluka itu langsung mengamuk. Malali saat itu paling dekat buaya langsung diterkam hewan yang menurut Bopalang panjangnya tiga meter itu. Awalnya Malali bisa menghindar, namun buaya menyusul serangannya, hingga akhirnya dada Mahali tercabik.

Buaya juga menyerang Bopalang. Dia dan dua teman lainnya berusaha menyelamatkan Malali. Namun buaya tetap menyerang. "Sepertinya buaya ingin memakan tubuh Malali,” ungkap Bupalang.

Rekomendasi Untuk Anda

Pergumulan di dalam sungai terjadi lebih dari 10 menit. Pertarungan berada di sungai pada kedalaman sepinggang orang dewasa. Air sungai menjadi sangat keruh karena kami cukup lama bergumul dengan buaya. Darah Malali dan darah buaya juga bercampur lumpur di sungai.

Mereka  lega setelah bisa keluar dari sungai. Pengakuannya, buaya masih tetap berada disana, dan tidak mau meninggalkan lokasi tersebut. "Terakhir kali kami lihat buaya masih di situ. Tapi kami tak lama disana. Kami langsung membawa Mahali berobat ke kampung malam itu,” terangnya.

Mereka membawa Malali yang pingsan ke Desa Paku Aji, Batin XXIV, obat tradisional dibuat mengobati luka Malali yang banyak terdapat di dada, perut, dan paha. Kemarin pagi, berkat bantuan seorang warga, Malali dilarikan ke Puskesmas terdekat. Namun puskesmas angkat tangan, dan langsung merujuk ke Rumah Sakit HAMBA Muara Bulian.

"Setelah mendapat perawatan medis, Malali baru sadarkan diri.  Mulai kejadian itu dia pingsan, dan baru tadi pagi sadar, setelah dirawat disini,” ucapnya. Nyelang, yang juga ikut menemani Mahali mulai dari sungai hingga rumah sakit mengatakan, selama ini mereka memang mendengar ada buaya di tempat mereka mencari labi-labi yang ingin dijual itu.

Sumber: Tribun Jambi
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas