Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Adi Culla: Partai dan Survei bukan Jaminan

menilai kemenangan pasangan Jokowi-Ahok di Pilgub DKI Jakarta, Kamis (20/9/2012) dapat menjadi cermin bagi kontestan pilgub Sulsel 22 Januari 2013.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Budi Prasetyo

Laporan Wartawan Tribun Timur /  Ilham

TRIBUNNEWS.COM  MAKASSAR     Pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Dr Adi Suryadi Culla menilai kemenangan pasangan Jokowi-Ahok di Pilgub DKI Jakarta, Kamis (20/9/2012) dapat menjadi cermin bagi kontestan pilgub Sulsel 22 Januari 2013.

Kemampuan Jokowi menumbangkan incumbent Foke-Nara, menggambarkan, tidak incumbent selamanya bisa bertahan. Menurut Adi, di Indonesia, sebanyak 40 persen incumbent kalah di tangan penantang. Termasuk kekalahan incumbent Irwandi Yusuf di Pilgub Aceh.

"Kemenangan Jokowi ini gambaran bahwa kekuatan incumbent, seperti modal wewenang, modal kekuatan menggerakkan birokrasi, mesin partai serta survei bukan jaminan," kata Dosen Hubungan Internasional Unhas ini kepada Tribun Timur, Kamis (20/9/2012).

Beberapa penyebab kekalahan incumbent menurut Adi, yakni, munculnya penantang yang dinilai masyarakat sebagai figure alternatif, disukai masyarakat, punya daya tarik, dan daya pesona.

Selanjutnya, penantang punya integritas, punya rekam jejak kepemimpinan yang dinilai baik masyarakat, kekuatan infrastruktur politik, munculnya tim-tim relawan militan yang menyokong penantang.

Kekuatan penantang juga diuntungkan atas lemahnya realitas kinerja incumbent," ini faktor yang membahayakan incumbent, karena tentu masyarakat punya penilaian sendiri bahwa selama incumbent berkuasa, menimbulkan ketidakpuasan masyarakat, incumbent tidak mampu menjawab tuntutan masyarakat. Akhirnya masyarakat mencari figure alternatif dengan berharap kepada kandidat baru itu," Adi menambahkan.

Rekomendasi Untuk Anda

Lebih lanjut, faktor lain kekalahan incumbent, yakni factor perilaku pemilih. Pemilih tidak selamanya sama dengan catatan hasil survei.

"Pengalaman putaran pertama pilgub DKI menggambarkan ada ketidakpastian perilaku pemilih. Pemilih itu kan dinamis, fluktuatif, tidak selamanya sama dengan hasil survei. Itulah yang membuat lembaga survei terkecoh. Di hari h orang pada tercengan karena di luar ukuran mereka,

Ini ada kaitan dengan besarnya massa mengambang (swing voters) di DKI. Ini sudah jelas, angka swing voter ini juga menentukan

Sumber: Tribun Kaltim
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas