Kisah Manusia Kerangkeng: Seno Dihias, Giman Digantung
Kisah manusia kerangkeng di Desa Gamping, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek,
Editor:
Hendra Gunawan
Laporan Wartawan Surya, Didik Mashudi
TRIBUNNEWS.COM, TRENGGALEK - Kisah manusia kerangkeng di Desa Gamping, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur cukup unik. Kerangkeng mirip sangkar binatang itu ternyata berisi tiga orang warga desa yang mengalami gangguan jiwa.
Bangunan kerangkeng bambu dengan ukuran panjang 2 meter, lebar 1,5 dan tinggi 1,2 meter. Masing-masing bentuk kerangkeng berisi manusia itu bentuknya juga cukup unik. Kerangkeng yang berisi Seno malahan dibuatkan bangunan khusus rumah-rumahan di belakang rumah keluarganya dengan lampu penerangan remang-remang.
“Daripada mengamuk dan melukai warga lainnya, kami masukkan dalam kerangkeng supaya aman. Sebelumnya Seno juga melempari kaca rumah tetangga hingga pecah berantakan,” tutur Karmiati (45), adik kandung Seno kepada Surya Online.
Seno yang telah 15 tahun menghuni kerangkengnya malahan “menghias” dengan anyaman tali-temali yang dipilinnya. Sehingga kerangkeng bambu itu nyaris tertutup dan tidak dapat melihat isi dalam kerangkeng dari kejauhan.
Kalau ingin melihat di dalam kandang kerangkeng harus lebih mendekat sehingga dapat mengetahui isinya. Seno sendiri sehari-hari lebih suka bertelanjang karena pakaian yang diberikan selalu disobek-sobek kemudian dipilin menjadi tali untuk menghias kerangkengnya.
Rambut Seno juga dibiarkan terurai panjang karena jarang bercukur. Keluarganya biasa membersihkan kerangkeng itu dua hari sekali. Kalau habis buang air besar atau buang air kecil biasanya keluarganya menutup kotoran dengan tanah.
Sementara kerangkeng yang dihuni Giman bentuknya lebih unik lagi karena kerangkengnya digantung di tengah dapur rumahnya. Bentuk kerangkeng Giman juga hampir sama dengan kerangkeng Seno sama-sama terbuat dari bambu.
Bedanya kerangkeng Giman dalam posisi digantung sehingga setiap saat keluarganya dapat dengan mudah membersihkan kotoran di dalam kandang berisi manusia. Keluarganya biasanya cukup mengguyur dengan air untuk membersihkan kotorannya.
Sama seperti Seno, di dalam kerangkengnya Giman juga bertelanjang bulat. Pria berkumis itu juga memelihara rambut gondrong sebahu karena jarang dicukur. Keluarganya juga menyiapkan handuk dan sajadah yang disampirkan di kerangkengnya.
Sementara kerangkeng yang dihuni Yati, satu-satunya penghuni kerangkeng perempuan, keluarganya juga menyediakan pakaian serta kain selimut. Kerangkeng Yati ditempatkan di belakang dapur dekat dengan kandang ayam.
Bila malam kerangkeng berisi janda yang ditinggal pergi suaminya itu juga diterangi dengan lampu dop temaran 5 watt. Untuk mengusir dinginnya malam, Yati selalu berselimut. Setiap dua atau tiga hari sekali kerangkeng itu dibersihkan dari kotoran penghuninya. Untuk urusan makan juga diberikan lewat celah kerangkengnya.
Para keluarga manusia kerangkeng itu beralasan membuatkan kerangkeng keluarganya supaya tidak membahayakan orang lain. Malahan saat memasukkan ke dalam kerangkeng juga memberitahu perangkat desa serta aparat kepolisian.