Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Olala, Para Guru Juga Bisa Jadi Model

"Itu sulit sekali. Khawatir salah putar dan jatuh," kata Sri Wiludjeng.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Laporan dari Siti Yuliana wartawan Surya

TRIBUNNEWS.COM,MALANG - Guru-guru di Kota Malang ternyata  memiliki bakat modelling, di samping bakatnya mengajar. Itu terlihat pada Lomba busana kerja batik yang diadakan Dharma Wanita Persatuan Dinas pendidikan (Dindik) Kota Malang di aula SMAN 5, Jumat (14/12/2012).

Ada 48 guru perempuan yang mengikuti kompetisi tersebut, mulai guru SMP, SMA dan UPT.

Mereka menggunakan pakaian batik lengkap dengan dandanan ala model profesional. Juga dilengkapi aksesoris lainnya seperti tas dan tatanan rambut maupun jilbab yang senada.

Mereka berjalan gemulai dengan senyum lebar nan mempesona. Dari cara jalan, sepertinya mereka sudah terlatih dengan baik. Hanya ada beberapa guru yang berusia tua terlihat kesulitan berpose atau bergaya di depan juri dan penonton.

Seperti yang dialami guru kembar ini, Sri Wiludjeng (53) dan Sri Widodo (53). Keduanya adalah peserta tertua. Sri Wiludjeng guru biologi di SMAN 3 dan Sri Widodo guru di SMPN 3. Keduanya mengaku kesulitan melakukan pose, terutama pose memutar badan.

"Itu sulit sekali. Khawatir salah putar dan jatuh," kata Sri Wiludjeng.

Rekomendasi Untuk Anda

Sri Wiludjeng sudah dua kali ini mengikuti lomba modelling. Meski begitu perasaan grogi masih dia rasakan ketika di atas  catwalk.

"Tidak tau ya, pasti ada perasaan grogi itu," ujarnya.

Untuk mengikuti kontes, Sri Wiludjeng dan Sri Widodo mempersiapkan hanya dalam tiga hari.

"Saya mendesain baju sendiri. Saya kombinasikan dengan bunga teratai khas Kota Malang dan kupu-kupu," timpak Sri Widodo yang mengenakan batik dengan model rok blazer warna hitam merah.

Kedua guru kembar ini terlihat sangat cantik dan mendominasi di antara peserta lainnya. Meski usianya paling tua, keduanya mendapat tepuk tangan meriah dari para penonton. "Semoga kami menang," harap keduanya.

Sri Mahanani Suwarjana, Ketua Dharma Wanita Dindik menambahkan, lomba busana kerja batik sengaja diselenggarakan untuk memacu para guru di Kota Malang agar membiasakan diri menggunakan batik.

"Memakai pakaian batik ketika mengajar ternyata sangat cantik. Batik harus dikenalkan ke masyarakat, karena itu budaya kita," ujar Sri.

Lomba busana kerja batik baru pertama diselenggarakan Dharma Wanita Dindik. Mendapat respon positif, kegiatan semacam ini kemungkinan akan dilaksanakan lagi tahun selanjutnya.

"Biasanya hanya lomba masak, tetapi respon lomba busana seperti ini juga sangat menarik," tukasnya.

Sumber: Surya
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas