Wakapolda Sulsel Sukses Raih Gelar Doktor
Di hadapan sepuluh penguji, Wakapolda Sulsel Brigadir Jenderal Syahrul Mamma sukses mempresentasikan hasil
Editor:
Toni Bramantoro
Laporan wartawan Tribun Timur, masniati masse
TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Tembakan Khmer Merah November lalu, disertasi 'Reformasi Birokrasi Penyidikan Polri Dalam Mewujudkan Tata Kelola Penegakan Hukum yang Baik' dipromosikan di Auditrium Al Jibra Universitas Muslim Indonesia UMI), Jl Urip Sumoharjo, Makassar.
Di hadapan sepuluh penguji, Wakapolda Sulsel Brigadir Jenderal Syahrul Mamma sukses mempresentasikan hasil penelitiannya itu. Syahrul berhasil meraih gelar doktor dengan predikat kelulusan sangat memuaskan.
"Polri harus menjadi ujung tombak pelayanan masyarakat. Sesuai dengan tugas pokoknya, sebagai penegak hukum dan disisi lain harus memberi pelayanan. Kedua sisi ini bagai dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang. Namun dalam pelaksanaannya harus saling sinergis," jelas Syahrul.
Menurut penerima United Nation Medal itu, penyidikan merupakan tugas utama Polri dalam penegakan hukum. Sehingga dengan reformasi birokrasi penyidikan, Polri dalam melakukan pelayanan harus berdasarkan aturan hukum yang transparan dan akuntabel.
Bukan hal mudah menjalani rutinitas perkuliahan di pascasarjana dan menjalankan amanah sebagai wakapolda bagi pria kelahiran Ujung Pandang 26 Februari 1958.
Beruntung ia selalu didampingi istri dan anak-anak yang selalu memberi dukungan dan doa mengiringi langkahnya mengemban amanah.
Kehadiran sang isteri Ade Tenri Abeng memberi warna dan spirit tersendiri baginya dalam menjalankan rutinitas keseharian.
Seperti ungkapan 'di balik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat di belakangnya'. Seperti itulah arti isteri yang selalu setia mendampinginya menjalani bahtera hidup rumah tangga.
Tak banyak yang tahu bahwa putra pasangan HM Mamma dan Andi Musbah adalah alumnus Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.
Selepas dari SDN 60 Makassar, ia melanjutkan pendidikannya di pasantren yang menjadi lokasi shooting film Negeri Lima Menara yang dirilis Maret lalu.
Menempuh pendidikan setingkat sekolah menengah pertama (SMP) yang berbasis islam membuat penerima Satya Lencana Jana Utama perlu beradaptasi dengan sekolah umum setelah selesai menjajaki ilmu di Pasantren Gontor.
Untuk beradaptasi dengan sekolah umum, ia berkali-kali pindah sekolah untuk mendapatkan suasana belajar yang nyaman. Menuntut ilmu di Sekolah Menengah Atas (SMA) Hasanuddin pernah ia jalani selama setahun. Kemuadian masuk ke SMA Kristen, di sana ia merasakan atmosfer belajar selama setahun sebelum beralih ke SMA Nasional. Disanalah ia menetapkan pilihan dan memilih menyelesaikan studinya di SMA Nasional.
Ayah dari Achmad Fadhil Rizqullah, Nabila Maharani Putri, dan Athiyya Izza Zayyan sebelumnya tak pernah bermimpi menggeluti dunia kepolisian. Ketidakyakinan terhadap potensi dan postur tubuh membuatnya tidak berani berpikir menjadi polisi.
Selepas lulus SMA, penerima Satya Lencana Santi Dharma mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa. Pilihannya jatuh pada Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan memilih jurusan teknik dan ekonomi.
"Saya dulu bercita-cita mau kuliah, jadi mahasiswa. Lalu saya daftar di Unhas dan Alhamdulillah saya lulus di jurusan ekonomi," jelasnya.
Proses perkuliahan pun diikuti. Namun, selang sebulan ia berubah pikiran untuk mendaftar Akabri.
"Waktu itu juga cuma asal-asalan daftar, karena diajak teman. Dan saya juga tidak bisa menolak. Ternyata, Alhamdulillah lulus. Tapi sedihnya karena teman yang ajak saya tidak lulus," katanya.
Kesempatan itu pun dimanfaatkan dengan serius. keseriusannya dibuktikan dengan terpilih sebagai salah satu diantara 30 anggota yang mendapat beasiswa ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).
Tiga tahun ia menjalani pendidikan di PTIK (1983-1986) dan hal yang paling
berharga adalah 24 jam nonstop digunakan untuk beraktivitas, tiada waktu tanpa belajar dan latihan. Namun, rutinitas tersebut tetap dijalani dengan keikhlasan dan ketekunan.
Selepas menyelesaikan pendidikan di PTIK, ia ditugaskan untuk pertama kalinya di Polda Kalimantan Selatan (Kalsel).
Banyak kisah, pengalaman, dan pelajaran yang didapatkan pada penugasan perdananya hingga menjadi Wakapolda Sulselbar.
"Tahun 1986 pada masa itu di Kalsel, jalanan belum beraspal. Jadi jika ingin ke daerah operasi, perlu waktu 12 jam yang semestinya hanya ditempuh empat jam jika jalanan beraspal," kenang Syahrul.
Selain di dalam negeri, alumnus sarjana hukum Unhas pernah menjadi bagian dari kontingen Garuda XII untuk misi perdamaian PBB di Kamboja tahun 1993.
Alumnus magister Hukum Universitas Padjajaran Bandung mengisahkan, setiap hari hanya mendengar tembakan dan saling serang antara tentara lokal dan pemerintah dengan Khmer Merah.
Setiap langkah penuh dengan kekhawatiran. "Karena jalanan tidak beraspal, kemungkinan rajau terpasang di mana-mana. Belum lagi kesulitan masalah bahasa," ujarnya.
Namun pria yang memiliki motto kekuasaan tanpa hukum akan kacau, hukum tanpa keadilan tiada makna, keadilan itu mendekati taqwa, taqwa itu adalah kemuliaan hakiki dapat melaksanakan tugas dan amanah dengan baik.
Olehnya itu, dengan sikapnya yang bertanggung jawab, bijaksanaan, disiplin, ketekunan, loyalitasnya dan pengabdiannya terhadap tugasnya, ia dipercaya hingga saat ini menjabat sebagai wakil kepala polisi daerah Sulsel.
Klik Tribun Jakarta Digital Newspaper
Baca juga:
- Tahun 2013 Tahun Politik
- RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Berhasil Sembuhkan Tuli Permanen
- FPI Makassar: Berikan Rasa Aman Kepada Pemeluk Agama lain
- Ormas Islam di Makassar Partisipasi Dalam Pengamanan Natal