RSUD Simeulue Memprihatikan
Pelayanan di RSUD Simeulue kini dikeluhkan pasien. Mereka nilai pihak manajemen tidak serius mengelola.
Editor:
Budi Prasetyo
* Pasien Keluhkan Obat
* Dinkes Aceh Merespons
TRIBUNNEWS.COM SINABANG - Pelayanan di RSUD Simeulue kini dikeluhkan pasien. Mereka nilai pihak manajemen tidak serius mengelola. Salah satu indikasinya, obat-obatan penunjang operasi yang langka sejak tahun lalu, belum juga teratasi tahun ini, meski di rumah sakit itu terdapat apotek. Direktur RSUD Simeulue beralasan, jangankan di Simeulue, di Medan pun stok obat saat ini kosong, karena stok baru belum dipasok.
Sejumlah keluarga pasien yang tengah menjalani rawat inap di RSUD Simeulue kepada Serambi, Kamis (10/1) mengatakan, obat-obatan yang dibutuhkan di rumah sakit itu tak bisa diperoleh dengan cepat.
Apabila obat tidak tersedia di apotek rumah sakit, maka keluarga pasien harus mencarianya di luar. “Obat yang tertera di resep dokter tidak semua tersedia di apotek rumah sakit. Petugas menyuruh keluarga pasien mengambil obat di Apotek Mandal. Parahnya, di apotek yang ditunjuk itu pun stok obatnya habis,” kata Arsab, warga Sinabang, salah satu keluarga pasien di RSUD Simeulue.
Dengan tak tersedianya obat di apotek yang ditunjuk, pihaknya harus mengupayakan obat di apotek lain dengan cara menebus langsung. Seolah layanan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) tak berlaku di pulau ini.
Menurut Arsab, pasien yang kini dirawat di rumah sakit itu, selain mengeluhkan stok obat yang selalu dalam keadaan krisis, juga mengeluhkan tak berfungsinya penyejuk ruangan (AC). “Sudah dua hari dirawat, kondisi ruangan panas,” kata Adin, pasien penyakit dalam.
Pantauan Serambi di RSUD ini, selain semua AC tak berfungsi, fasilitas kamar mandi pun tidak dirawat dengan baik. “WC di ruang perawatan anak saya juga tidak berfungsi,” keluh Arsab.
Sejumlah dokter di rumah sakit itu yang ditanyai Serambi mengaku kondisi RSUD Simeulue seperti itu sudah berlangsung lama. Dokter tak mau ambil pusing, sebab sudah ada pihak tertentu yang mengurusnya.
“Kami juga sering mendapat keluhan soal rumah sakit ini dari masyarakat. Tapi, karena itu tanggung jawab pihak manajemen, sehingga kami tak mau ambil pusing. Kelengkapan alat kerja, itu menjadi urusan pihak manajemen,” kata dr Sastra.
Soal obat pun, menurutnya, juga begitu. “Kalau obat tidak ada, itu juga tanggung jawab yang mengurus rumah sakit,” tandas Sastra.
Tapi diakuinya, ada pasien yang harus ditunda operasi gara-gara tak ada obat, seperti cairan infus RL dan sarung tangan dokter. “Akhirnya, pasien dirujuk ke luar daerah,” ujar Ketua IDI Simeulue ini.
Direktur RSUD Simeulue, dr Hanif yang dikonfirmasi Serambi mengakui bahwa kondisi rumah sakit itu belum normal. Pihaknya saat ini sedang menyiapkan kontrak baru dengan distributor obat yang akan memasok obat ke rumah sakit.
“Kalau obat, bukan cuma di sini kosong, di Medan pun ada yang kosong, seperti cairan infus NaCl, karena menunggu dipasok oleh distributor,” katanya.
Tak hanya cairan infus yang kosong, tapi obat generik juga tak tersedia saat dipesan. “Kontrak pemasok obat ke rumah sakit akan dilakukan sebulan sekali dan diperkirakan obat-obatan di rumah sakit ini bakal normal pertengahan bulan ini,” demikian Hanif.
Minta obat
Untuk mengatasi stok obat yang sudah habis pada akhir tahun 2012, Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Simeulue, dr Armidan mengajukan permintaan bantuan obat kepada Kadiskes Aceh, dr M Yani. Obat yang diminta mencakup jenis obat pelayanan dasar dan obat kesehatan jiwa (Lihat tabel)
Alasan mereka meminta bantuan obat, kata Yani, karena stok obat yang dibutuhkan habis, sementara hendak dilakukan pengadaan, anggarannya belum tersedia, atau RAPBK 2013-nya belum disahkan.
Kadiskes Aceh meminta Kasi Farmasi di kantornya, Gezi, untuk mempelajari ulang permohonan obat dari Simeulue itu.
Menurut Gezi, sistem buffer stock obat yang disediakan Dinkes Aceh bukan untuk pemenuhan kebutuhan 100 persen obat di seluruh RSUD dan puskesmas kabupaten/kota. Sesuai namanya, stok obat yang ada fungsinya sebagai penyangga. Besarannya sekitar 10-15 persen dari kebutuhan seluruh obat di RSUD dan puskesmas di Aceh.
Kebutuhan obat di RSUD dan puskesmas di masing-masing kabupaten/kota, menurut Gezi, sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing daerah. “Jadi, jika pada akhir tahun stok obat di sebuah RSUD dan puskesmas sebuah daerah telah habis, hal ini dapat kita pastikan, perencanaan pengadaan obatnya tidak akurat dan cermat. Atau jumlah pasien yang berobat jalan dan rawat inap di rumah sakit itu meningkat di luar perkiraan pihak rumah sakit atau puskesmas.”
“Kami juga heran, kenapa di RSUD Simeulue sering kehabisan obat. Apakah pasien yang berobat gratis jumlahnya terus melonjak, sementara persediaan stok obatnya sedikit,” katanya.
Menurut Gezi, kalaupun banyak pasien yang berobat gratis melalui Program JKA, Jamkesmas, Askesos dan lainnya, pihak rumah sakit akan melakukan klaim kepada PT Askes (APBA) dan Menkes (APBN) atas pelayanan berobat gratis yang diberikan. “Jadi tidak ada alasan, stok obat di RSUD dan puskesmas habis,” imbuhnya. (c48/her)
daftar obat yang diminta
* Jenis obat pelayanan dasar: natrilium klorida infus 0,9 %, steril 860 botol, metilergometrinmaleatinj 17 kotak, metilergometrin malaet tablet salut 30 kotak, ringer laktat larutan infus steril 500 ml 1.348 botol.
* Jenis obat kesehatan jiwa: diazepam tablet 2 mg 3 botol, karbamazepin tablet 200 mg 30 kotak, dan klorpromazin tablet salut 100 mg (Hcl) 7 botol.
Baca Juga :
- Turis Masjid Raya Dipakaikan Baju Khusus 19 menit lalu
- RSBI Dihapus, Orang Tua Murid Tuntut Biaya Dikembalikan 24 menit lalu
- Akbar Faisal Dampingi Aziz Keliling Pasar di Pangkep 31 menit lalu