Indonesia Harus Pede dengan Kemampuan Ekonominya
Indonesia harus percaya diri dengan kemampuan ekonominya. Pendulum pusat pertumbuhan ekonomi kini mengarah ke bangsa Asia
TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN - Indonesia harus percaya diri dengan kemampuan ekonominya. Pendulum pusat pertumbuhan ekonomi kini mengarah ke bangsa Asia dan itu peluang bagi Indonesia.
Bangsa ini jangan jadi pasar, tetapi juga sebagai basis produksi. Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dalam Rapat Kerja Nasional IV Asosiasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Se-Indonesia di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (27/2/2013).
"Kita harus percaya diri. Kalau kita melihat susutnya perekonomian Eropa, orang meramal bahwa sulit untuk berkompetisi dengan bangsa-bangsa Asia. Data menunjukkan China dan India hanya butuh 12 dan 16 tahun untuk melipatduakalikan ekonomic output-nya," katanya.
Indonesia punya ketahanan ekonomi. Tahun 1998 ketika reformasi, pendapatan per kapita masyarakat di bawah 500 dollar AS. Banyak pengamat memprediksi Indonesia tidak bisa bertahan. Namun, kenyataan berkata lain. Sepuluh tahun sesudahnya, Indonesia bisa masuk jadi anggota G-20.
"Kita bangga. Indonesia adalah negara dengan kekuatan ekonomi terbesar nomor 17 di dunia. Dulu (pendapatan per kapita) kita 500 dollar AS, kini menjadi 3.800 dollar AS, dan hanya dicapai dalam 10 tahun," katanya.
Pendulum pusat pertumbuhan kini mengarah ke Asia. Karena itu, tinggal bagaimana bangsa Indonesia menyusun strategi agar bangsa ini tidak menyia-nyiakan fenomena tersebut.
"Jangan jadi pasar yang dibanjiri barang impor, tetapi jadi basis produksi," kata Hatta. Integrasi ekonomi global yang mengakibatkan persaingan sengit, maka Indonesia mesti bisa meningkatkan kompetisi secara global. Bangsa yang unggul, menurut dia, adalah yang mengembangkan inovasi ekonomi dan meingkatkan daya saing.