Supardi Meninggal Karena Tak Punya Uang Berobat
Sedemikian miskin kah masyarakat Indonesia, sampai sulit untuk berobat? Hal itu tergambar dari nasib tragis yang dialami Supardi
Editor:
Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS.COM, KLATEN - Sedemikian miskin kah masyarakat Indonesia, sampai sulit untuk berobat? Hal itu tergambar dari nasib tragis yang dialami Supardi (54), seorang pemulung, yang meninggal saat perjalanan bekerja. Sesaat sebelum bekerja dia mengeluhkan sakitnya kepada teman seprofesinya.
“Saat di warung makan tadi, Supardi sempat bercerita pada saya, bahwa dirinya sedang sakit asma. Namun saat saya tanya mengapa tidak istirahat saja, dia berkata kalau tidak bekerja dari mana dia akan makan. Dia mengaku tidak punya uang untuk berobat,” tutur Lanjar (35), di Klaten, Sabtu (26/4/2013).
Supardi yang merupakan warga Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, ditemukan tewas di tepian jalan, di Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Jumat (26/4/2013). Hal itu sempat menggemparkan warga setempat, dan mengagetkan Lanjar yang sempat bercakap-cakap dengan korban sebelum ia meninggal.
“Saya dengar ada suara barang terjatuh. Waktu saya cari sumber suaranya, ternyata dari kejauhan saya melihat Supardi terkapar di pinggr jalan dengan sepeda dan gerobaknya. Saya langsung mengambil air putih untuk diminumkan. Setelah menghampirinya ternyata dia sudah meninggal. Saya kenal dengan korban, karena sering bertemu ketika mencari rongsokan,” tambah Lanjar.
Beberapa warga yang sudah berkerumun di lokasi kejadian itu telah menginformasikan kejadian itu ke pihak kepolisian terdekat. Petugas Polsek Wedi yang mendatangi lokasi langsung melakukan olah TKP. Istri korban juga telah diberi kabar dan datang ke lokasi, yang akhirnya menangis histeris.
“Setelah diperiksa, denyut nadi korban tidak ada. Pihak puskesmas setempat yang melakukan pemeriksaan fisik korban, tidak menemukan tanda-tanda penganiayaan. Jenazah korban kami bawa ke rumah sakit untuk divisum,” tutur Kapolsek Wedi, AKP Ngadino. (oda)