Uang Keluar Jambi Capai Rp 27 Miliar
Ada sekitar Rp 27 miliar uang masyarakat yang dibelanjakan di luar Provinsi Jambi.
Editor:
Budi Prasetyo
Laporan wartawan Tribun Jambi, Hendri Dede Putra
TRIBUNNEWS.COM, JAMBI – Perekonomian Provinsi Jambi, termasuk dalam kategori outflow. Penandanya adalah, lebih tingginya uang keluar dibandingkan uang masuk.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi di April 2013 total uang keluar sebanyak Rp 1.458 triliun, sedangkan uang masuk Rp 1.485 triliun. Artinya ada sekitar Rp 27 miliar uang masyarakat yang dibelanjakan di luar Provinsi Jambi.
Kepala Unit Pengawas Bank, Rony Ukurta Barus mengatakan tingkat outflow (uang keluar) lebih tinggi dari inflow (uang masuk). Menurut Rony, terjadinya outflow karena kecendrungan masyarakat yang membelanjakan uang keluar daerah, atau membeli produk yang tidak ada dijual di Jambi.
"Ada juga sejumlah perusahaan besar yang melakukan penarikan uang untuk membeli keperluan di luar," katanya kepada Tribun, Rabu (19/6).
BI mencatat, per April lalu lebih tinggi uang masuk daripada uang keluar dengan perbandingan Rp 477 miliar (inflow) dan Rp 424 (outflow). Tetapi pada Maret 2013 lebih tinggi uang keluar dari uang masuk ke Jambi. Yakni sebesar Rp 463 miliar (outflow) dan Rp 365 miliar (outflow).
Sementara itu pengamat perbankan Jambi, DR Pantun Bukit mengatakan tingginya uang keluar dibanding uang yang masuk kembali menunjukkan fundemental ekonomi Jambi belum begitu kuat. Artinya, ketergantungan ekonomi Jambi terutama dari bahan makanan, kebutuhan konsumsi masih dipasok dari luar.
"Ini salah satu indikator. Buktinya uang belanja keluar jauh lebih besar dibanding uang masuk," ulasnya.
Dengan demikian, kata Bukit, ekonomi Jambi harus diperkuat fundamentalnya. Strateginya adalah memperkuat sektor produksi, sehingga capital outflow bisa ditekan dengan membelanjakan uang di daerah sendiri. “Selain itu memperkuat tabungan ini untuk mengerem tingkat konsumsi masyarakat, kemudian mendorong invetsor untuk masuk ke daerah Jambi,” sebutnya.
"Investor yang masuk ke Jambi harus diperbanyak, supaya terjadi capital inflow. Karena investor datang tentu membawa modal yang akan bisa mengimbangi capital outflow kita," ujarnya.
Untuk investor yang masuk, menurutnya Jambi harus mencerminkan suasana yang kondusif. Termasuk adanya kepastian hukum, serta regulasi yang pro investasi. “Ini akan meningkatkan ekonomi Jambi," tambahnya.
Catatan Tribun, Bank Indonesia Jambi memang menyebut perekonomian dengan ciri outflow ini juga dialami oleh sebagian besar provinsi di Sumatera, di antaranya Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kepulauan Riau, Bangka Belitung dan Aceh.
Selama tahun 2012, sampai September lalu saja, jumlah uang kartal yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia Jambi sebesar Rp 3,3 triliun, sementara jumlah uang tunai yang masuk kembali dari perbankan ke Bank Indonesia Jambi sebesar Rp 1,74 triliun. (hdp)