Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dalam Empat Tahun, 10 Penyu Pantai Paloh Mati Dibunuh

Kelangsungnya populasi penyu terancam oleh maraknya perburuan telur penyu di pesisir pantai Paloh, Kabupaten Sambas

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Budi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM , SAMBAS - Kelangsungnya populasi penyu terancam oleh maraknya perburuan telur penyu di pesisir pantai Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Bahkan, untuk mendapatkan telur, para pemburu tak segan membantai satwa dilindungi tersebut.

Secara geografis, wilayah pesisir pantai Paloh terletak di sebelah utara Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Pesisir pantai yang panjangnya mencapai 100 kilometer ini, 63 kilometer di antaranya merupakan habitat peneluran bagi penyu Hijau (Chelonia Mydas) dan Penyu sisik (Eretmochelys Imbricate).

Kondisi tersebut menjadikan Pantai Paloh menjadi yang terbesar kedua di Indonesia sebagai habitat peneluran penyu. Namun, belum ada penetapan zonasi sebagai kawasan konservasi oleh pemda setempat.

Koordinator Konservasi Penyu WWF Indonesia Program Kalimantan Barat, Dwi Suprapti, memaparkan, diduga pemburu tersebut tidak sabar menunggu proses peneluran yang memakan waktu hingga tiga jam.

"Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, sedikitnya ditemukan 10 penyu yang mati mengenaskan. Itu yang terdata, bisa saja jumlahnya lebih dari itu. Cangkangnya terbelah, dan membusuk dipinggir pantai, sementara telurnya raib diambil pemburu," ujar Dwi, Minggu (6/10/2013).

Bukan hanya tak sabar, lanjut Dwi, namun para pemburu tersebut sepertinya tak leluasa karena khawatir dipergoki Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) "Kambau Borneo".

Rekomendasi Untuk Anda

Sementara itu, salah satu anggota Pokmaswas Kambau Borneo, Hermansyah mengatakan, selama ini aparat penegak hukum diam saja dan terkesan menutup mata dengan aktivitas perburuan yang terjadi.

"Padahal kami sebagai pokmaswas sangat berharap pemerintah bisa bekerja sama memberantas perburuan ini. Kalau pemerintah hanya menjanjikan siap membantu, kami tidak perlu itu, kami ingin bukti nyata. Kami ingin mereka (pemerintah) juga turun langsung membantu di lapangan," ujar pria yang akrab di sapa Pak Tam tersebut.

Pak Tam juga menuturkan, aparat penegak hukum hanya mengatakan masyarakat yang susah untuk disadarkan, terutama untuk memburu telur penyu. Mmenurut saya si aparat lah yang susah untuk sadar, karena sudah tiga periode ini aparat hanya bisa berjanji, tapi tidak pernah menjenguk ke pantai,"ungkapnya.

Pokmaswas juga menyesalkan kejadian beberapa waktu yang lalu, di mana ada salah satu anggotanya yang ditangkap polisi karena memergoki pemburu yang sedang mengambil telur penyu. "Waktu itu ada anggota yang memergoki pencuri telur penyu, kemudian terjadi adu jotos, tapi malah anggota kami yang dipenjara. Sementara si pemburu yang ternyata masih kerabat dekat aparat penegak hukum dibiarkan begitu saja,"ujar Pak Tam.

Dia berharap pemerintah maupun aparat penegak hukum bisa bekerjasama dalam memberantas perburuan telur penyu di pesisir pantai Paloh. Jangan malah aparat juga menutup mata karena tergiur harga jual telur penyu yang memang menjanjikan.

Bahkan dia menyayangkan jika ternyata ada aparat penegak hukum yang memang terlibat dalam sindikat perburuan telur penyu di Kabupaten Sambas.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas