Warga Pesisir Riau Lebih Kenal Malaysia Ketimbang Indonesia
Hal tersebut terlihat dari semangat masyarakat di hari-hari besar nasional. Nyaris tak ada kesadaran memasang bendera merah putih pada 17 Agustus
Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Mayonal Putra
TRIBUNNEWS.COM – Kasi Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpollinmas) Kota Dumai, Hernando, mengatakan, Dumai secara khusus serta pesisiran Riau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, perlu diberikan pendidikan kebangsaan secara berkala. Pasalnya, sampai saat ini siaran dari negeri jiran Malaysia masih marak menjadi tontonan warga pesisiran.
"Akibatnya mereka mengenal Malaysia dari pada Indonesia. Ini sudah lama kita sayangkan," ujarnya kala memberikan pemaparan dalam dialog wawasan kebangsaan mengenai wilayah perbatasan dalam menjaga keutuhan NKRI, Minggu (17/11) di Hotel Grand Zurri.
Menurutnya, pertahanan di wilayah perbatasan masih jauh dari harapan. Hal tersebut terlihat dari semangat masyarakat di hari-hari besar nasional. Nyaris tak ada kesadaran memasang bendera merah putih pada 17 Agustus. Bahkan anak-anak peisiran di Pulau Rupat selalu menyaksikan tayangan-tayangan dan lebih akrab mendengarkan siaran radio dari Malaysia.
"Perlu kita tekankan empat pilar kebangsaan. Teknisnya tidak perlu seminar-seminar, namun lebih memberikan penyadaran kepada akar rumput," ucapnya.
Untuk 2014, pihaknya mengaku akan turun ke masyarakat dengan Kodim 0303 Bengkalis. Selain menyapa masyarakat dengan segenap program, sekaligus menanamkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ikha dan NKRI. "Ini untuk mencegah pengaruh dari luar, supaya kita kuat di masyarakat," katanya.
Ia meluruskan, kekuatan NKRI di daerah perbatasan tidak sekedar diserahkan kepada TNI/Polri atau pemerintah. Namun TNI/Polri serta Pemerintah harus menyatu dengan masyarakat. Ia juga tidak mau kalau alat tukar di daerah perbatasan tidak menggunakan Rupiah.
Seminar yang diadakan Pemuda Panca Marga (PPM) Kota Dumai itu menghadirkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari organisasi kemahasiswaan, ormas, OKp serta siswa se-Kota Dumai.
Selain Hernando, Perwira Seksi (Pasi) Intel Kodim 0303 Bengkalis, Ujang Z juga mengatakan hal yang sama sebelumnya. Bahkan untuk meningkatkan semangat nasionalisme peserta, ia menghadirkan video serangan senjata pemusnah massal. Apalagi Dumai mempunyai kilang minyak, yang jika meledak akan memakan korban dengan radius kiloan meter.
"Tidak lama untuk menghancurkan Dumai, jika ada negara lain yang ingin menghancurkan. Tapi yakinlah, Dumai atau Indonesia tidak bakal mendapat ancaman kalau masyarakat mempunyai semangat nasionalisme yang kuat," katanya.
Menurut Kapten Infanteri Kodim 0303 Bengkalis ini, masyarakat perbatasan perlu mengubah pola pikir. Karena, pengarus popular culture sudah berhasil menyingkirkan budaya nasional di perbatasan.
"Kami ingin masyarakat menyatu dengan kami, karena kita tak punya senjata selengkap negara-negara maju. Tapi ada yang kita miliki dan tidak dimiliki bangsa lain, yakni kebersamaan, rasa kemanusian dan persatuan," ujarnya.
Sementara itu, ketua PPM Kota Dumai, Erman akhir-akhir ini sudah tampak di masyarakat kurangnya kesadaran bernegara, atau toleransi yang mengakibatkan keruntuhan NKRI. "Kita mengimbau ke masyakat dan memberi pembelajaran. Hari-hari nasional dilewati begitu saja," katanya.
Selain aktif menggelar seminar dan dialog kebangsaan, pihaknya juga berencana akan turun bergotong royong dengan masyarakat. Karena, penyumbatan-penyumbatan parit yang kerap membuat Kota berjuluk pengantin berseri itu banjir akibat runtuhnya budaya gotong royong.
"Kita tidak menunggu intruksi dari pemerintaj dulu, tapi kita akan turun saja bekerja sama dengan pemuda setempat," tutupnya.