Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Koin Emas di Kutaraja Ternyata dari Dinasti Ottoman Turki

Misteri asal muasal dua jenis dari ribuan koin emas yang ditemukan di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh mulai terkuak.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

TRIBUNNEWS.COM, BANDA ACEH - Misteri asal muasal dua jenis dari ribuan koin emas yang ditemukan di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh mulai terkuak. Ternyata benda bersejarah tersebut, berasal dari Dinasti Ottoman Turki dan Sultan Aceh.

Ribuan keping dirham jenis pertama yang berukuran sebesar uang logam seribu rupiah, ternyata dicetak pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman bin Salim dari Dinasti Utsmaniyyah (Ottoman) di Turki.

Hal tersebut, diungkapkan peneliti sejarah kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad yang melakukan penelitian terhadap dirham tersebut.

"Asal keping koin itu terkuak berkat tulisan sebelah muka dirham tersebut berbunyi 'Sultan Sulaiman bin Sultan Salim Syah `uzza nashruhu dhuriba fi Mishr sanah 927'" kata Taqiyuddin, Selasa (20/11/2013).

Kalimat itu, kata dia, bermakna "Sultan Sulaiman bin Sultan Salim Syah--semoga dikuatkan kemenangannya--dicetak di Mesir pada tahun 927/6 (Hijriah)."

"Sultan Sulaiman atau juga yang lebih dikenal dengan Al-Qanuniy adalah penguasa ke-10 dari Dinasti Utsmaniyyah di Turki dan telah memerintah dalam masa yang lama sejak kemangkatan ayahnya Sultan Salim pada 926 H/1520 M sampai dengan wafatnya pada 974 H/1566 M," terangnya.

Sementara itu, satu jenis dirham lainnya seukuran kancing baju yang ditemukan di tempat yang sama setelah diteliti tercetak nama seorang sultan besar dalam sejarah Aceh. Pada bagian mukanya tertulis, "Alawuddin bin `Ali Malik Azh-Zhahir". Sedangkan sebelah belakang tertulis "As-Sulthan Al-Adil".

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Taqiyuddin, Sultan Alawuddin adalah putra Sultan Ali Mughayat Syah yang dianggap merupakan pelopor kebangkitan Aceh Darussalam di awal abad ke-16 M.

Sesuai data inskripsi (kata-kata yang diukirkan pada batu atau dicap pada uang logam) yang berhasil diungkap dari nisan makam Sultan Alawuddin yang berada di kompleks makam Kandang XII, Banda Aceh, menunjukkan ia adalah seorang sultan agung di kawasan Asia Tenggara dalam abad tersebut.

"Adalah takdir Yang Maha Kuasa semata, dunia Islam pada waktu itu dikuatkan oleh kehadiran kedua pemimpin umat ini, Al-Qanuniy di Barat dan Ri'ayah Syah di Timur," kata Taqiyuddin.

Penemuan dirham Sultan Sulaiman Al-Qanuniy bersamaan dengan dirham bertuliskan `Ala'uddin Ri'ayah Syah Malik Azh-Zhahir di Gampong Pande baru-baru ini menjadi bukti kongkret adanya hubungan yang sangat kuat antara kedua penguasa dunia Islam ini.

"Keduanya diibaratkan dua bersaudara yang telah menyumbangkan banyak kebaikan bagi umat Islam dalam abad ke-16 itu," ujarnya.

Menurutnya, masa pemerintahan Al-Qanuniy merupakan masa puncak kegemilangan Dinasti Utsmaniyyah. Angkatan lautnya di bawah komando Khairuddin Barbaros (Hayreddin Barbarossa) telah berhasil melakukan banyak gerakan penaklukan yang penting dalam sejarah dinasti ini.

Dalam masa pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuniy di Turki, Aceh berada dalam pemerintahan Sultan `Ala'uddin Ri'ayah Syah yang menjadi sultan setelah ayahnya, Sultan `Ali Mughayat Syah, mangkat pada 936 H/1530 M.

Sebagaimana Al-Qanuniy, Ri'ayah Syah merupakan sultan yang memerintah dalam masa yang lama pula, yaitu sampai dengan wafatnya pada 979 H/1572 M, dan masanya juga merupakan masa kegemilangan Aceh Darussalam. (sar)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas