Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Lingkungan Rusak, Pengguna Timah Seakan Tutup Mata

Kerusakan akibat penambangan timah di Bangka Belitung semakin menjadi-jadi, dalam satu dekade ini

Editor: Dewi Agustina
zoom-in Lingkungan Rusak, Pengguna Timah Seakan Tutup Mata
Bangka Pos/Hendra
Aktivis Walhi Babel saat beraksi, Rabu (11/12/2013). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Teddy Malaka

TRIBUNNEWS.COM, BANGKA - Industri global pengguna timah harus bertanggungjawab terhadap pemulihan lingkungan di Bangka Belitung. Kerusakan akibat penambangan timah di Bangka Belitung semakin menjadi-jadi, dalam satu dekade ini.

Para pengguna timah asal Bangka Belitung seolah tutup mata. Padahal permasalahan lingkungan Bangka Belitung yang rusak sudah dikampanyekan mendunia.

"Kerusakan lingkungan yang terjadi di Bangka Belitung ternyata bukan menjadi isu utama di dunia soal timah. Sebenarnya para produsen mengerti apa yang dialami oleh Bangka Belitung," ujar konsultan dari Save Babel Community, Teddy Marbinanda, Selasa (10/12/2013).

Permasalahan utama adalah, soal gejolak perdagangan Bangka Belitung. "Ketika ternyata ekspor bergejolak, suplai terganggu itu yang menjadi perhatian utama saat ini," ujarnya.

Sementara itu Organsiasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyebut, Indonesia adalah penghasil timah terbesar pertama di dunia dari kegiatan penambangan. Indonesia menyumbang sepertiga timah dunia per tahun. Sebagian besar timah ini berasal dari Kepulauan Bangka Belitung. Sebagian besar diekspor ke luar negeri, yakni Singapura 58 persen, Malaysia 13 persen, Jepang 7 persen dan Belanda 6 persen. Timah Bangka digunakan oleh merek-merek elektronik global terkenal, perusahaan penghasil handphone, atau komputer.

Namun kehancuran lingkungan parah telah terjadi di Bangka. Wilayah laut Bangka Belitung adalah salah satu lokasi terumbu karang utama dunia. Kegiatan penambangan telah menyebabkan sedimentasi membuat terumbu karang hancur (bleaching). Walhi menyebut, akibat dari kondisi itu tangkapan nelayan berkurang hingga 80 persen.

Rekomendasi Untuk Anda

Disamping itu, Walhi menyoroti penambangan timah pun kini marak dilakukan di laut. Sehingga selain sedimentasi yang bisa menyebar hingga radius lebih dari 20 kilometer, ekosistem laut pun dirusak, dibongkar. Padahal pemulihan ekosistem laut lambat dan membutuhkan biaya mahal. Akibatnya, sering terjadi konflik antara nelayan dan kegiatan penambangan.

Mirisnya kondisi itu terjadi ketika kerusakan di darat pun belum tertangani. Lubang-lubang tambang di darat yang tidak direklamasi menjadi sarang nyamuk malaria. Pulau Bangka adalah salah satu provinsi dengan penderita malaria tertinggi di Indonesia. Lebih parah lagi, material tanah yang terbuka tidak direklamasi menyebabkan bahan radioaktif alami memancarkan radiasi ke lingkungan sekitar.

Tingkat radiasi radiaoaktif Pulau Bangka adalah tiga kali lipat lebih tinggi dari normal. Diantara bahan radioaktif alami tersebut adalah Radon. Di Amerika Serikat, Radon tercatat sebagai zat penyebab kanker paru terbesar kedua. Jumlah penderita TB paru cukup tinggi di Bangka, dan gejala TB paru adalah mirip dengan penyakit terpapar radiasi radioaktif Radon.

Sampai saat ini pemerintah belum serius melaksanakan tindakan pengalaman atau pengamanan kesehatan warga dan penambang dari paparan bahaya radioaktif.

Angka kecelakaan penambangan timah di Bangka sangat tinggi, yakni lebih dari 50 orang meninggal setiap tahunnya. Kegiatan penambangan timah juga seringkali melibatkan anak-anak.

Ratno Budi, Direktur Eksekutif Walhi Bangka menyatakan, setelah puluhan dekade Bangka Belitung dikeruk untuk timah global, saat ini waktunya untuk perbaikan.

"Sudah saatnya produksi timah dari Bangka dikurangi secara cepat tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat lokal karena telah melampaui daya dukung lingkungan hidup pantai, darat dan adanya bahaya radioaktif. Timah harus diperoleh dari daur ulang," ujarnya.

Sementara itu Manajer Kampanye Tambang dan Energi Walhi Pius Ginting, mengatakan, saatnya pemerintah, industri tambang dan perusahaan elektronik mempedulikan biaya kerusakan lingkungan hidup dan sosial yang terjadi, dengan melakukan tindakan pemulihan lingkungan.

Hari ini, ITRI-International Tin Research Institute dan asosiasi perusahaan elektronik internasional mengadakan pertemuan di Bangka. Pertemuan tersebut dilatarbelakangi oleh kampanye yang dilakukan oleh organisasi lingkungan hidup menuntut industri elektronik global bertanggungjawab memperbaiki lingkungan hidup dan sosial Kepulauan Bangka Belitung akibat kegiatan penambangan timah.

Sumber: Bangka Pos
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas