Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Atraksi Pasola di Sumba Barat Kacau Jadi Arena Perang Batu

Pasukan berkuda yang terlibat pasola menyerang satu sama lain.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Budi Prasetyo
zoom-in Atraksi Pasola di Sumba Barat Kacau Jadi Arena Perang Batu
Pos Kupang, Petrus Piter
Atraksi pasukan berkuda lengkap dengan lembing itu hanya setengah jam karena berubah menjadi arena perang batu. Pasukan berkuda yang terlibat pasola menyerang satu sama lain. 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Petrus Piter

TRIBUNNEWS.COM, WAIKABUBAK--Pagelaran pasola di Lapangan Hobakala, Kecamatan Lamboya Barat, Kabupaten Sumba Barat,  Sabtu (1/2/2014), tidak berlangsung lama. Atraksi pasukan berkuda lengkap dengan lembing itu hanya setengah jam karena berubah menjadi arena perang batu. Pasukan berkuda yang terlibat pasola menyerang satu sama lain.

Masalahnya sepeleh, seorang lawan terkena lemparan lembing membalasnya dengan melempar batu. Padahal secara budaya kalau terjadi kecelakaan seperti itu sudah menjadi hal lumrah bila terjun dalam medan pertempuran. Polisi beserta Satpol PP  pun berupaya menenangkan kedua kubu. Bahkan Bupati Sumba Barat, Jubilate Pieter Padango, juga turun memberi pengarahan sesaat didaulat rato (tua adat).

Setelah bupati memberikan pengarahan, disepakati pasola dilanjutkan. Kedua kubu yang 'berperang' masuk arena dengan kudanya. Namun 'babak kedua' itu juga tidak berlangsung lama karena kembali terjadi kekacauan. Aparat kepolisian pun bertindak dan membubarkan pasola tersebut.

Sejumlah warga, terutama dari luar Sumba, yang secara khusus ke Sumba Barat menyaksikan pasola tersebut  sangat menyesal karena tidak menyaksikannya sampai selesai. Bagaimana seorang pemuda berkuda dan bersenjatakan lembing menyerang lawannya. "Budaya ini sangat unik dan bagus untuk dilestarikan," ujar Ridwan kesal yang mengaku berasal dari Yogyakarta.

Warga lainnya juga menyayangkan warga Lamboaya tidak menjaga budayanya sendiri tetapi justru mengacaukannya. "Bagaimana meningkatkan budaya, kalau kita sendiri tidak menjaganya. Mestinya sebagai pemilik budaya harus menjaga dan memeliharanya dengan baik agar memuaskan warga yang berkeinginan menyaksikannya," ujar seorang warga. *

Rekomendasi Untuk Anda
Sumber: Pos Kupang
Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas