Waspadai Lahar Hujan
Warga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan dan abu vulkanik yang diguyur hujan
Editor: Dewi Agustina
TRIBUNNEWS.COM, KEDIRI - Aktivitas vulkanik Gunung Kelud di Jawa Timur, Sabtu (15/2/2014), terpantau kian menurun meskipun belum stabil. Warga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan dan abu vulkanik yang diguyur hujan.
Hingga kemarin, empat orang meninggal karena sesak napas.
"Aktivitas vulkanik tak sebesar dua hari terakhir. Namun, statusnya masih Awas dan tetap diberlakukan zona larangan 10 kilometer dari puncak," ujar Kepala Pusat Badan Geologi Kementerian ESDM Surono, di Kediri, Sabtu.
Perhitungan itu berdasarkan beberapa indikator. Pemantauan pada pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB terlihat asap putih keabuan setinggi 500 hingga 1.000 meter. Sehari sebelumnya mencapai 17.000 meter. Tingkat kegempaan pun menurun. Jika sebelumnya tremor menerus dengan amplitudo maksimum 10 sampai 15 milimeter, saat ini hanya 6 mm.
Meski aktivitas vulkanik menurun, Surono berharap masyarakat mewaspadai banjir lahar hujan (bukan lahar dingin).
"Hindari sungai saat hujan deras. Banyak material letusan terendap," ujarnya.
Kelud diperkirakan sudah memuntahkan 125 juta meter kubik material vulkanik. Sebagian besar tertampung di sungai di sekitar Kelud, seperti Sungai Badak dan Sungai Kuning.
Potensi lahar hujan makin besar di sekitar Kelud karena selain abu vulkanik juga ada tumbukan material padat berbagai ukuran, termasuk bongkahan batu besar. Abu bisa jadi penggelincir yang baik sehingga bongkah-bongkah batu besar itu mengalir ke tempat- tempat lebih rendah.
"Masyarakat di bantaran sungai harus hati-hati," kata Surono.
Potensi lahar hujan bisa terjadi di semua daerah yang kini tertimpa abu vulkanik. Ketebalan abu pada radius 10 km mencapai puluhan sentimeter. Di kawasan Plosoklaten, Sugihwaras, Kediri--radius 8 km dari puncak Kelud--misalnya, abu vulkanik tebal bercampur kerikil. Kondisi serupa menyebar hingga Ngantang, Kabupaten Malang.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Hendrasto mengatakan, selain banjir lahar hujan, potensi awan panas juga ada. Namun berdasarkan pengalaman, awan panas hanya akan mencapai jarak maksimal 10 km dari kawah saat terjadi letusan besar.