Kadinkes : Beli Daging Ayam Tanya Pedagang Pakai Formalin Tidak?
Jangan sampai membeli makanan mengandung pengawet ataupun pewarna dan pemanis berbahaya
Editor:
Budi Prasetyo
Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru
TRIBUNNEWS.COM.NUNUKAN,- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan Dokter Haji Andi Akhmad berharap masyarakat berhati-hati saat akan membeli makanan. Jangan sampai makanan tersebut mengandung pengawet ataupun pewarna dan pemanis berbahaya. Kalau perlu, kata dia, tanyakan terlebih dahulu kepada pedagang.
“Termasuk daging ayam, ketika mau beli daging ayam, tanya pedagang, ini pakai formalin tidak? Ini menggunakan pewarna apa? Kalau kesumbah yang aneh-aneh, jangan! Kalau pewarna makanan boleh. Demikian juga ini baksonya, ada boraks atau tidak?” ujarnya.
Andi mengatakan, Dinas Kesehatan akan terus menyosialisasikan kepada masyarakat maupun pedagang mengenai makanan berbahaya. Apalagi, dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, penggunaan bahan berbahaya ditemui hampir pada semua jenis makanan dan minuman.
“Sehingga ini harus diwaspadai terutama anak-anak. Anak kan tidak tahu memilih. Nah ini yang perlu juga dihimbau untuk jajanan sekolah diperhatikan baik-baik,” ujarnya.
Dinas Kesehatan berharap pihak sekolah menyediakan kantin yang sehat untuk murid di sekolah itu. Jangan membiarkan anak-anak berbelanja di pinggir jalan karena belum tentu terjamin kesehatannya.
Dengan membuat kantin sekolah, Dinas Kesehatan juga lebih mudah mengecek makanan yang disajikan.
Dijelaskannya, Dinas Kesehatan mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk memeriksa makanan siap saji.
“Baik yang mau dijual langsung maupun ketika suatu katering atau rumah makan mau meminta izin rumah makan, rekomendasi kesehatannya, kami harus memeriksa makanan siap saji, termasuk jajanan anak sekolah,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan masih menemui adanya penggunaan bahan berbahaya seperti boraks dan formalin pada daging yang sudah diolah maupun bahan pewarna berbahaya seperti rhodamin B dan methil yellow serta pemanis buatan sakarin, pada makanan dan minuman.
Sepanjang tahun 2014 ini saja ditemukan 26 sampel yang positif mengandung formalin, boraks, rhodamin B minuman dan sakarin pada minuman. Formalin ditemukan pada daging ayam dan olahannya termasuk pada hati. Dari temuan-temaun dimaksud, 21 sampel ditemukan di Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Nunukan Selatan sementara 5 sampel ditemukan di Kecamatan Siemenggaris, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Tulin Onsoi dan Kecamatan Sembakung.
“Nah inilah dari sekian banyak yang kami temukan memang kita sedikit agak perlu waspada, bahwa makanan di sekitar kita ini apakah sudah aman atau tidak?” ujarnya.
Diakuinya untuk mengetahui makanan tersebut mengandung boraks, formalin maupun pewarna rhodamin B dan methil yellow serta pengawet lainnya, bukanlah hal yang mudah. Tanpa melalui pemeriksaan laboratorium, sangat sulit melihat secara fisik kandungan bahan berbahaya jika makanan sudah diolah.
Karena itulah ia hanya bisa menghimbau masyarakat maupun pengolah makanan siap saji agar betul-betul jeli saat memilih bahan.
“Pilihlah bahan yang betul-betul tidak mengandung bahan-bahan yang berbahaya tadi. Karena kita tahu selama ini di Nunukan seperti Ramadhan kita adakan pemeriksaan jajajan, ditemukan bahan pewarna berbahaya, bahan pengawet, termasuk jajanan anak sekolah, termasuk di rumah makan,” katanya.
Andi berharap, warga di Kabupaten Nunukan bisa hidup sehat dengan mengolah hingga mengonsumsi makanan yang sehat.