Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

10 Ribu Warga Arosbaya Bangkalan Jalan Kaki Bershalawat Selama Sembilan Hari

"Tujuannya untuk menolak bala' (musibah) karena belakang ini banyak musibah seperti gagal panen, warga terserang penyakit, bahkan mati mendadak," ungk

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in 10 Ribu Warga Arosbaya Bangkalan  Jalan Kaki Bershalawat  Selama Sembilan Hari
TRIBUN/DANY PERMANA
ILUSTRASI 

TRIBUNNEWS.COM,, BANGKALAN - Ada pemandangan tak biasa saat memasuki jalur propinsi di Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Selasa (23/9/2014) malam.

Gerombolan warga berjalan beriringan sambil membaca shalawat selama sembilan hari.

Mereka berjalan menyusuri malam hanya diterangi obor menuju Markas Koramil Arosbaya, 10 kilometer dari Desa Lajing. Di markas koramil itu, warga dari tujuh desa di Kecamatan Arosbaya berkumpul membaca Surat Yasin.

Pemandangan yang sama juga ditemukan di Desa Tengket, Buduran, Paserean, dan Desa Arosbaya. Ribuan warga yang terdiri dari anak-anak, pemuda-pemudi, orang tua, bahkan ibu-ibu sambil menggendong balita.

Mereka berjalan kaki dengan kawalan banser, anshor, dan polsek mengelilingi empat desa itu sebelum ngumpul di markas koramil.

Kegiatan malam itu merupakan malam kesembilan atau yang terakhir. Selepas Shalat Isya', warga mulai berkumpul dan berjalan sambil membaca shalawat atau yang mereka kenal dengan sebutan Burdah.

"Tujuannya untuk menolak bala' (musibah) karena belakang ini banyak musibah seperti gagal panen, warga terserang penyakit, bahkan mati mendadak," ungkap pengasuh Pondok Pesantren (ponpes) Al Muhajirin Paserean, Desa Buduran KH Hamzah Amjat Munawir.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia mengatakan, kegiatan murdah itu bukan hanya untuk keselamatan warga di Kecamatan Arosbaya semata tapi demi keselamatan warga Indonesia. "Banyak orang lupa bershalawat kepada Nabi Muhammad. Maka itu, kami ingatkan biar mereka ikut melakukan," tandasnya.

Tokoh warga Desa Arosbaya Mahmudi (45) mengatakan, di malam kesembilan ini warga membawa tumpeng nasi uduk dua warna, putih dan kuning disertai lauk pauk seadanya. "Tumpeng itu didoakan di markas koramil dan dimakan semua warga yang hadir," kata Mahmudi.

Ia menjelaskan, kegiatan burdah itu dalam beberapa dekade ini belum pernah dilakukan. Namun sudah menjadi kebiasaan warga di Kecamatan Arosbaya saat dirundung musibah.
"Dulu jaman saya masih kecil ada, tapi memang sudah lama tidak ada burdah. Ini sudah ada sejak saya belum lahir," pungkasnya.

Sumber: Surya
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas