"Tuhan Ampuni Dosa Suamiku"
"Aku tak tahu harus seperti apa lagi kalau sudah begini. Bagaimana nasib anak-anak saya nanti. Oh Tuhan, ampuni dosa suamiku. Berikan kekuatan,"
Editor:
Y Gustaman
Laporan Tribunnews Batam, Wahib Wafa
TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Mintauli Sihotang berselonjor di lantai halaman kamar jenazah RSBP Sekupang, Batam, Minggu (12/10/2014). Ia terpukul karena suaminya Tamba Simarmata sudah terbujur kaku dengan luka menganga di perutnya.
Karyawan PT Panasonic terus menderaskan air matanya. Tiba-tiba, Mintauli menangis histeris, sesaat rekan kerjanya datang. Ia tak menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Ia bingung harus bagaimana lagi karena suaminya sudah tiada.
"Aku tak tahu harus seperti apa lagi kalau sudah begini. Bagaimana nasib anak-anak saya nanti. Oh Tuhan, ampuni dosa suamiku. Berikan kekuatan," ujar Mintauli merapal doa dengan suara yang berat.
Tamba meninggalkan satu istri dan dua anak: yang pertamanya baru menginjak usia delapan tahun tinggal di Medan dan yang kedua baru berusia tiga tahun tinggal bersama Mintauli di Batam.
Puluhan rekan kerja Mintauli terus berdatangan. Mereka mencoba menguatkan psikis Mintauli, sesekali mengajaknya berbicara. Hingga pukul 16.30 WIB kemarin, autopsi terhadap Tamba dirampungkan.
Jasad Tamba diinapkan di kamar jenazah RSBP Batam untuk selanjutnya dipulangkan ke kampung halamannya di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ia adalah korban pengeroyokan di Kompleks Mitra Raya Blok H2 No 4-5 RT 005/010, Minggu.
Sebagai bentuk solidaritas, kolega mengumpulkan pundi-pundi uang sumbangan secara sukarela atas meninggalnya Tamba. Uang itu akan diserahkan untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan almarhum.