Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

'Kuli Tinta' Pegang Peran Penting Meredam Konflik

Lewat pelatihan ini, peran wartawan diharapkan mampu membantu menciptakan perdamaian di masyarakat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in 'Kuli Tinta' Pegang Peran Penting Meredam Konflik
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Puluhan wartawan media cetak, elektronik, online baik nasional maupun lokal mengikuti Pelatihan Jurnalisme Damai Bagi Wartawan-Pemred yang digelar di Hotel Swiss Belhotel Maleosan Manado.

Pelatihan ini digagas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang bermitra dengan BIZ Communication dan organisasi profesi jurnalis di Sulut berlangsung 16-18 Oktober.

Pelatihan ini memberi kesempatan kepada peserta me-review tata cara, metode dan pendekatan liputan konflik, radikalisme dan terorisme dan bagaimana cara meningkatkannya.

Selama pelatihan peserta belajar banyak hal terkait radikalisme dan terorisme di Indonesia, kebijakan dan strategi yang dijalankan pemerintah serta bagaimana melakukan reportase jurnalisme damai yang membawa kedamaian di antara pihak-pihak yang bertikai.

"Tujuan akhirnya bagaimana jurnalis itu mengambil peran dalam menciptakan perdamaian di tanah air. Agar pelatihan tak membosankan, metodenya variatif dilengkapi contoh dan studi kasus bahkan games," jelas Ahmad Zaky MBA dari BIZ Communication.

Lewat pelatihan ini, peran wartawan diharapkan mampu membantu menciptakan perdamaian di masyarakat. Bukan sebaliknya, seperti yang masih acap terjadi, pemberitaan media justru memperumit konflik.

Beberapa pemateri dihadirkan dalam pelatihan ini. Selain Ahmad Zaki, sejumlah jurnalis berpengalaman antara lain, Agus Basri mantan wartawan Tempo, pendiri Majalah Gatra yang kini Staf Ahli Pimpinan MPR RI; Yadi Hendriana, Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) sekaligus Pemred MNC TV; Prof Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama; Iman Wahyud dari Dewan Pers dan Herwan Chaidir, Direktur Perlindungan BNPT.

Rekomendasi Untuk Anda

Dialog
Menyelesaikan konflik horizontal bukan perkara mudah. Namun, hanyalah dialog para pihak yang terlibat mampu mengakhiri konflik. Dengan dialog, dua pihak (atau lebih) yang berkonflik bisa saling mengetahui apa interest (keinginan, kepentingan) pihak yang lain.

"Sebab konflik itu yang muncul ke permukaan hanya eksesnya, kulminasi. Padahal, persoalan sebenarnya itu lebih besar. Ibarat gunung es," jelas Ahmad Zaki, MBA pemateri Memahami Jurnalisme Damai.

Dijelaskan, lewat dialog persoalan-persoalan kepentingan dalam konflik bisa diselesaikan dan dicari solusinya. Dicontohkannya, sebuah konflik antar-kelompok pemuda di sebuah wilayah/kampung ternyata hanya satu di antara dampak sosial karena tingginya angka pengangguran dan keterbatasan akses mendapatkan pekerjaan.

Menyelesaikan konflik dengan kekerasan terbukti tak akan menyelesaikan persoalan. Lewat berdialog, bisa mengurai apa yang menjadi kepentingan-kepentingan para pihak.

"Nah, pada sisi inilah seharusnya jurnalis menempatkan diri. Jangan sampai jurnalis terjebak di satu sisi, atau bahkan ikut terlibat. Jangan sampai justru menjadi korban konflik," jelas Hendriana.

Penulis harus mampu melihat 'fenomena gunung es' dalam setiap kesempatannya meliput konflik di masyarakat.
"Alangkah indahnya ketika jurnalis menjadi juru damai. Atas pemberitaannya yang mendorong diskusi dan perdamaian antarpihak berkonflik," jelasnya.

"Memang, semua tergantung pada dapur redaksi masing-masing soal menu apa, cara memasaknya, bagaimana kemasannya dan metode penjualannya ke pasar (masyarakat). Sebenarnya di sini letak soalnya," jelas Ronny Buol, kontributor Kompas.com berpendapat. (ndo)

Sumber: Tribun Manado
Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas