Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Buruh Bangunan Bawa Kabur Siswi SMK

Polisi berhasil menangkap MF (20) buruh bangunan yang membawa kabur Nursiti Hajar Karmila, siswi kelas X B Perkantoran, SMK Negeri 1 Nunukan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sugiyarto

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru

TRIBUNNEWS.COM, NUNUKAN- Polisi berhasil menangkap MF (20) buruh bangunan yang membawa kabur Nursiti Hajar Karmila, siswi kelas X B Perkantoran, SMK Negeri 1 Nunukan.

Tersangka ditangkap sekitar tiga hari lalu, setelah melarikan Siti, Senin (2/2/2015) saat hendak menuju ke sekolah.

"Jadi untuk kasus ditengarai penculikan ini, tsk sudah kita dapatkan MF (20), buruh bangunan beralamat di Jalan Tanjung," kata Kapolsek Nunukan, AKP Syahrir Bajeng, Selasa (10/2/2015).

Kapolsek mengatakan, penangkapan tersangka diawali dari pelacakan nomor handphone korban melalui satelit. Nomor handphone korban itu diperoleh dari orang tuanya.

Meskipun aktif, handphone milik korban tidak diangkat saat dihubungi orang tuanya.

Dari pelacakan handphone, ketahui korban yang saat itu diduga sedang bersama tersangka hanya berpindah-pindah di sekitar Pulau Nunukan.

Rekomendasi Untuk Anda

Meskipun posisi korban sudah diketahui melalui Global Positioning System (GPS), Polisi tetap berhati-hati agar bisa menangkap tersangka.

"Jadi anggota kita di lapangan tetap memonitor melalui GPS," ujarnya.

Polisi lalu mencoba menghubungi Siti. Saat itu, korban mengangkat handphonenya. Dia lalu dirayu untuk pulang ke rumahnya.

"Disampaikan sama rekan kita di lapangan, kamu tidak akan diapa-apakan orang tuamu bila kamu kembali," ujarnya.

Yakin tidak menerima perlakuan kasar dari orang tuanya, sore itu Siti langsung pulang ke rumahnya di Jalan Aji Muda, Sungai Apuk, Desa Binusan, Kecamatan Nunukan.

Dari kota, korban naik angkutan kota berwarna putih dengan diantarkan tersangka.

Di sekitar rumah korban, tersangka lebih dulu turun dari angkutan kota dan bersembunyi di semak-semak.

Polisi yang telah memantau kedatangan korban dan tersangka, langsung membekuk MF saat sedang bersembunyi.
Korban dan pelaku telah diperiksa penyidik di Markas Polsek Nunukan.

Awalnya korban sama sekali tidak mau bicara saat ditanyai penyidik. "Hal itu yang menyulitkan kita," ujarnya.

Akhirnya korban lalu dibawa pulang ke rumahnya. Oleh orang tuanya, Siti diberikan pemahaman.

"Informasi dari penyidik kami, sudah mau berbicara. Berterus terang kepada kami," ujarnya.

Korban mengakui dia terpaksa kabur bersama MF karena memang telah ;cinta mati'. Meskipun saat itu keduanya sudah putus.

"Namanya cinta kan sukar untuk dipisahkan. Akhirnya terjadi begini," ujarnya.

Selama kabur bersama MF, Siti mengaku hidup berpindah-pinda dari satu kos ke kos lainnya. Diapun mengaku tinggal bersama dan melakukan perbuatan asusila.

Orang tua korban yang keberatan anaknya dibawa lari telah membuat pengaduan ke Polsek Nunukan.

Kapolsek mengatakan, MF pria kelahiran 1995 asal Sulawesi Selatan itu telah ditetapkan sebagai tersangka dengan sangkaan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana maksimal penjara 15 tahun.

"Karena korbannya baru berusia 16 tahun," ujarnya.

Sebelumnya Umah, ibu korban mengungkapkan saat akan dibawa kabur, putrinya bersama rekan satu sekolah berangkat berboncengan sepeda motor ke sekolah dari rumahnya

Namun di tengah perjalanan menuju sekolah, tiba-tiba Dion, mantan pacarnya menghadang sepeda motor itu. Dion menyampaikan niat untuk mengantarkan Siti ke sekolah.

Tidak merasa curiga akan sikap Dion, rekannya akhirnya meninggalkan Siti bersama Dion.

“Jadi temannya ini tidak curiga apa–apa, karena anak saya bilang itu mantan saya. Jadi dikiranya temannya itu betul – betul mau diantar ke sekolah," ujarnya.

Semalam tak juga pulang, Umah lalu menanyai teman yang membonceng Siti berangkat ke sekolah. Dari ciri-ciri yang disebutkan, Umah yakin jika pria tersebut Dion. Ciri-ciri seperti itu pernah disampaikan anaknya.

“Ciri – ciri orangnya seperti ini dan itu. Jadi saya fikir kalau seperti itu mantannya yang kejar – kejar dulu memang itu saja, yang si Dion itu," katanya.

Umah mengetahui Dion sebagai buruh bangunan dari pengakuan anaknya. Saat duduk dibangku SMP, Siti mengenal Dion melalui rekan satu sekolahnya.

Selama berpacaran dengan anaknya, Dion hanya berkomunikasi melalu pesan singkat tanpa pernah berkunjung ke rumahnya.

“Kemarin ada anak–anak yang tahu, si Dion pernah di Bhayangkara tinggal. Tetapi itu tahun kemarin bukan sekarang. Ada juga orang bilang dia itu suka pindah – pindah kos," ucapnya

Saat berpacaran, Siti mulai merasa tidak nyaman dengan sikap dan perilaku Dion. Karena selain tidak bersekolah, Dion juga tidak memiliki tempat tinggal yang jelas.

Karena itupula, Umah seringkali mengingatkan putrinya untuk menjauhi Dion.

"Yah si Dion itu yang sering mengganggunya di sekolah. Jadi saya sering SMS juga jangan begitu. Jangan ganggu si ade kan? Saya pernah komunikasi seperti itu karena kadang dia mengganggu karena sakit hatikan?" katanya.

Sebelum hilang bersama sang mantan, Umah tidak merasakan ada sesuatu yang beda dari anaknya. "Biasa – biasa saja anak itu, tidak ada yang berubah begitu saja," katanya.

Sumber: Tribun Kaltim
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas