Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Bocah 4 Tahun Disodomi dan Diancam dengan Kepalan Tangan

AH, bocah laki-laki yang baru berusia 4 tahun. Ia hanya bisa menangis saat menceritakan kisah tragis dialaminya.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Budi Prasetyo
zoom-in Bocah 4 Tahun Disodomi dan Diancam dengan Kepalan Tangan
Warta Kota
Ilustrasi pelecehan seksual. 

TRIBUNNEWS.COM.TAMBANG - Tindak kekerasan seksual juga dialami AH, bocah laki-laki yang baru berusia 4 tahun. Ia hanya bisa menangis saat menceritakan kisah tragis dialaminya. Ia ketakutan setelah diancam dengan kepalan tangan yang ditempelkan pelaku ke kepalanya agar ia tidak menceritakan kejahatan MR, 43 tahun, kepada orangtuanya.

Itulah yang membuat perbuatan pelaku baru terungkap sebulan kemudian. Warga Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kampar itu diduga menyodomi AH sekitar Januari 2015 lalu, di rumahnya. MR merupakan seorang pegawai di kampus Universitas Riau (UR).

Kapolsek Tambang AKP R. Zuhri Siregar mengungkapkan, ibu korban baru melaporkan pelaku ke polisi Jumat pekan lalu. “Pelaku ditangkap hari itu juga dan sudah diamankan untuk penyidikan lebih lanjut," ujarnya, Minggu (1/3/2015).

Menurut Siregar, perbuatan pelaku terungkap setelah korban bercerita kepada kakaknya. Pada malam itu, mereka yang tinggal dekat rumah pelaku berada di dalam kamar dan akan tidur. Tanpa disadari, cerita korban ternyata didengar oleh ibunya.

Ibunya pun langsung mendesak AH menceritakan semua yang telah terjadi. Dalam pengakuannya, pada hari kejadian ia datang ke rumah pelaku. "AH hendak membeli celengan ayam yang mirip seperti celengan di kamar pelaku," ujarnya.

AH dibelikan oleh pelaku dan diajak ke kamar. Di kamar itulah ia disodomi. "Nangis aku. Kupakai celanaku. Dibilangnya, jangan kau bilang sama mama kau, ya," ujar Iptu Zuhri Siregar menirukan pengakuan korban.

Sejak kasus pelecehan seksual tersebut dilaporkan ke Polsek Tambang, kini rumah yang dikontrak keluarga AH kosong. Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kampar, Zamri curiga ada yang tak beres di balik menghilangnya keluarga korban.

Rekomendasi Untuk Anda
Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas