Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Uniknya Tradisi Perang Api di Banjar Nagi

Cahaya matahari mulai redup, Jumat (20/3/2015) sekitar pukul 18.30 Wita di Banjar/Desa Pakraman Nagi, Ubud, Gianyar mulai menunjukkan berkumpul warga

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sugiyarto
zoom-in Uniknya Tradisi Perang Api di Banjar Nagi
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Pemuda Sekaa Teruna Teruni (STT) Mekarjaya Banjar Nagi saling lempar Kulit kelapa yang dibakar di depan Banjar Nagi, Ubud, Gianyar, Jumat (20/3/2015). Ritual Perang api dilaksanakan STT Mekarya jelang pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi. TRIBUN BALI/RIZAL FANANY 

TRIBUNNEWS.COM, GIANYAR - Cahaya matahari mulai redup, Jumat (20/3/2015) sekitar pukul 18.30 Wita di Banjar/Desa Pakraman Nagi, Ubud, Gianyar mulai menunjukkan berkumpulnya warga.

Di depan bale banjar, sekitar 175 orang laki-laki tanpa baju, menggunakan udeng, kamen dan saput kotak-kotak duduk melingkari batok kelapa yang dibakar.

Sambil menunggu api berkobar, mereka mengisinya dengan acara melantunkan tembang gegenjekan (lagu tradisional Bali).

Ada yang menyanyi, ada pula yang menari. Membuat suasana Bali tempoe doeloe sangat terasa di sana.

"Ainggih rarisin tradisi sabatan apine (silahkan laksanakan tradisi perang apinya)," ujar Jro Bendesa Desa Pakraman Nagi, I Ketut Marka melalui alat pengeras suara saat api di batok kelapa sudah membara.

Mendapat aba-aba, warga yang terdiri dari pemuda yang sebelumnya duduk melingkari api bangun dari duduknya sambil meloncat ke dalam kobaran api.

Sementara itu, Gambelan baleganjur bertempo batel (kencang) dimainkan dalam acara yang digelar setahun sekali itu. Baca berita selengkapnya diedisi cetak Tribun Bali.(*)

Rekomendasi Untuk Anda
Sumber: Tribun Bali
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas