Menangis di Pundak Ibu, Agus Tai Beri Pengakuan Ini Terkait Engeline
Agus terlihat kaget begitu masuk ke ruang rapat Ditreskrimum dan mendapati ibu serta kakaknya di situ.
Editor: Budi Prasetyo
Setelah suasana berangsur tenang, Agus pun diberi waktu untuk bercerita terkait ikhwal kasus pembunuhan terhadap Engeline Megawe.
Agus bercerita dengan tetap meneteskan air mata.
Agus mengutarakan pada Kandokang bahwa dirinya tidak membunuh bocah delapan tahun itu. "Bukan saya yang bunuh Engeline," ujar Agus sambil terus menangis.
Pria tamatan kelas III SD ini lantas bercerita terkait pembunuhan Engeline menurut versinya.
Pengakuan Agus itu, sebagian sebetulnya sudah pernah diungkapkan sebelumnya melalui pengacara Agus, Haposan Sihombing.
Agus mengisahkan, pada hari Sabtu (16/5/2015) sekitar pukul 07.00 Wita, ia seperti biasa menjalankan tugasnya memberi makan ayam di kandang bagian belakang kediaman Margriet di Jalan Sedap Malam 26 Denpasar.
Saat itu, ia sempat melihat Engeline sedang memberi makan ayam di depan kamar Margriet.
Ia pun melanjutkan tugasnya mengepel kemudian memberi minuman ayam.
Setelah memberi minum ayam, Agus menuju kamarnya untuk mengambil peralatan kerjanya di antaranya, gergaji, palu, paku, dan parang.
Namun, Agus tak menemukan parang yang biasa digunakan saat bekerja.
"Saat sedang cari parang, saya dengar Engeline menangis histeris di kamar Margriet dan bilang 'mama lepasin saya'. Nangisnya tidak begitu lama," ujar Agus.
Sekitar pukul 09.00 wita, Margriet memanggil Agus ke kamarnya.
Betapa kaget Agus ketika ia melihat Engeline telah terkapar bersimbah darah di lantai kamar Margriet.
"Saya sempat rangkul anak itu. Dia tidak bergerak lagi, matanya juga dalam keadaan terbuka," kata Agus.