M Nuh Dijagokan Tandingi Risma
Pengamat Komunikasi Politik Unair Suko Widodo menilai, peluang enam parpol yang tergabung dalam Koalisi Majapahit memenangkan Pilwali Surabaya terbuka
Editor:
Sugiyarto
TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo menilai, peluang enam parpol yang tergabung dalam Koalisi Majapahit memenangkan Pilwali Surabaya terbuka lebar.
Syaratnya, mesin politik yang dimiliki parpol, khususnya di tingkat bawah berjalan efektif dan digerakkan secara massif.
Lalu kualitas kandidat yang diusung yang diusung juga harus mumpuni dan punya popularitas dan elektabilitasnya yang mampu menandingi incumbent.
"Dengan besarnya dukungan secara politik, Koalisi Majapahit berpeluang mengalahkan incumbent. Asal mereka benar-benar solid dan strategi pemenangan yang dilakukan juga tepat," terangnya, kepada Surya, Rabu (1/7/2015) malam.
Untuk mewujudkan target tersebut, kata Suko, calon alternatif yang diusung harus orang di luar parpol yang punya kredibilitas di masyarakat dan mampu merubah peta kekuatan yang ada.
Selain itu, dia juga harus sejumlah kemampuan, seperti punya pengalaman di bidang pemerintahan dan birokrasi, kecakapan dalam memimpin, dan strategi dan komunikasi politik bagus.
"Dengan begitu, tokoh-tokoh alternatif layak dimunculkan. Bukan nama-nama yang selama sudah muncul," jelasnya.
Suko menyebut, nama-nama tokoh alternatif yang layak dipertimbangkan untuk diusung, antara lain, mantan Menteri Pendidikan dan Rektor ITS Prof Muhammad Nuh, mantan Rektor Unesa Prof Muchlas Samani, mantan Sekdaprov Jatim Rasiyo, dan Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Hadi Prasetyo.
Sementara untuk tokoh perempuan, nama yang layak dipertimbangkan antara lain, mantan Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Esty Martiana Rachmie, Dosen Universitas Airlangga Pingky Saptandari, mantan Anggota Komnas HAM dan Dosen Universitas Surabaya Hesti Armiwulan, serta jurnalis senior dan Anggota Komnas HAM Siane Indriani.
"Selain itu, pengusaha Jatim, seperti Turino Junaidi juga layak untuk dipertimbangkan," bebernya.
Untuk tokoh dari parpol bagaimana, Suko menyebut, sampai saat ini dirinya belum melihat ada yang benar-benar kuat dan sangat layak untuk ditarungkan dengan incumbent.
"Kalau orang parpol dipasang sebagai orang kedua (Cawawali) masih mungkin," tandasnya.