Anak-anak di Kampung Ini Banyak yang Bernama Pemain AC Milan
Jika saja mereka tahu, mungkin mereka akan heran bercampur kagum, bahkan bisa saja berencana mengunjungi Kota ini
Editor:
Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS.COM -- RICARDO Montolivo dan Jeremy Menez, dua pilar AC Milan, mungkin tak tahu bila punya pendukung fanatik di Kecamatan Langowan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Jika saja mereka tahu, mungkin mereka akan heran bercampur kagum, bahkan bisa saja berencana mengunjungi Kecamatan yang tengah bersiap menjadi Kota ini.
Milanisti Indonesia Sezione Manado Basis Langowan. Begitulah nama Komunitas pendukung Klub Seri A Italia AC Milan dari Kecamatan Langowan.
Dalam komunitas tersebut, globalitas klub yang bermarkas di Stadion San Siro itu menyatu dengan lokalitas warga Langowan yang masih kental dengan budaya Mapalus. Hal itu dapat dilihat dari kegiatan anjang sana ke Panti Asuhan yang rutin mereka lakukan serta keterlibatan mereka dalam acara bersih kota.
Pesta "Milan" pun nampak dalam acara pengucapan syukur yang jadi ciri khas Minahasa. "Milan yang global, kami terjemahkan ke dalam konteks lokal," kata Belly Memah Capo (Kepala) komunitas itu.
Bauran globalitas serta lokalitas itu juga terlihat dalam foto Milanisti Langowan tengah berfoto di depan patung Schwarz.Schwarz adalah penginjil asal Jerman yang membawa injil di tanah Minahasa.
Di bawah Schwarz, para Milanisti, mengenakan baju kebesaran Milan, mengangkat dua tangan tinggi - tinggi sebagaimana sapaan khas tifosi Milan.
Belly mengatakan, Milanisti Langowan kini memiliki 174 anggota. Ketika dibentuk 2 tahun lalu yakni pada 6 Juli tahun 2013, komunitas itu hanya beranggotakan 16 orang. "Anggota bertambah dengan cepat," kata dia.
Dikatakannya, anggota komunitas terdiri berbagai profesi seperti PNS, Polisi, Pekerja Swasta, Petani, Wartawan hingga Tukang Ojek. Anggota tertua, kata dia, berumur 56 tahun, sementara termuda belasan tahun.
Menurut Belly, komunitas tersebut muncul dari keinginan sejumlah pendukung fanatik Milan di Kota Langowan agar mereka memiliki wadah perkumpulan. Mereka sepakat perkumpulan itu berbentuk komunitas. "Modelnya seperti komunitas penggemar Milan di kota lainnya," ujarnya.
Di dalam komunitas itu, beber dia, para anggota mengembangkan kecintaan mereka pada Milan sembari menyebarkan spirit Milan kepada masyarakat luas. Dikatakannya, sudah hal lumrah jika pendukung menamakan anak mereka dengan nama pemain Milan.
Alhasil, banyak anak Langowan bernama Kaka, Sheva atau legenda Milan Van Basten. "Ada pula yang menandai tubuhnya dengan nama pemain Milan," katanya.
Seperti komunitas lainnya, para Milanisti Langowan pun dikenal 'gila'. Seorang di antaranya nekat menonton AC Milan kala bermain di tur di Amerika Serikat. "Memang banyak anggota yang fanatik namun dalam artian positif, " ujarnya.
Belly mengatakan, komunitas "berdoa" agar Milan suatu waktu bermain di Jakarta. Jika Tuhan mengabulkan permintaan itu, Belly berjanji memenuhi 'nazar' komunitas untuk nonton Milan kala berlaga di Sansiro.
"Itu jadi mimpi kami, itu harapan kami yang sering terucap saat sedang Kopdar maupun nonton bareng, saat nonton bareng suasananya sangat heboh, apalagi jika kami lihat langsung," ujarnya.
Belly mengaku tiap anggota komunitas punya alasan mengapa suka Milan. Belly mengatakan dirinya mulai menyulai Milan saat ditangani Alberto Zaccheroni.
Di bawah asuhan Zaccheroni, Milan tampil menyerang serta atraktif dengan pola 4.3.3 dengan trio penyerang George Weah, Oliver Bierhoff serta Leonardo. Kombinasi ketiganya tak hanya enak disaksikan lewat TV, tapi juga dimainkan lewat PS. "Saya waktu itu hobi PS," kata dia.
Mengenai Milan saat ini, ia berharap pelatih baru bisa meramu strategi yang lebih menyerang. "Belajar dari tahun lalu, Milan harus mematenkan formasi menyerang,"katanya.
Penasehat Milanisti Langowan Calvin Lumingkewas mengaku menjadikan filosofi Milan sebagai pegangan hidup.
Sebutnya, banyak filosofi Milan yang diterjemahkannya dalam lingkup pekerjaan. "Bagaimana bermain indah dan menang, artinya bagaimana kita melakukan pekerjaan dengan baik serta meraih hasil maksimal," kata dia. (tribunmanado/arthur rompis)
Baca tanpa iklan