Tribun

Ajak Hubungan Intim Ditolak, Shobirin Bawa Temannya Perkosa Siswi Aliyah

Seorang siswi kelas tiga salah satu Madrasah Aliyah di Tuban menjadi korban perkosaan dua pria beristri secara bergiliran.

Editor: Sugiyarto
zoom-in Ajak Hubungan Intim Ditolak, Shobirin Bawa Temannya Perkosa Siswi Aliyah
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, TUBAN - Seorang siswi kelas tiga salah satu Madrasah Aliyah di Tuban menjadi korban perkosaan dua pria beristri secara bergiliran. Akibat perbuatan asusila dua pria tersebut, kini siswi tersebut hamil.

Dari dua pemerkosa, polisi menangkap seorang pemerkosa bernama Ahmad Shobirin (20) di rumahnya, Desa Gununganyar, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Sedangkan satu pemerkosa lainnya berinisial DJ masih diburu polisi.

“DJ sedang kami kejar,” ujar AKP Elis Suendayati, Kasubag Humas Polres Tuban, Rabu (9/9/2015).

Antara siswi dengan Shobirin telah kenal sejak 2013 lalu. Mereka kemudian saling bertukar nomor ponsel.

Tidak lama ini, Shobirin merayunya untuk diajak berhubungan intim. Namun, siswi tersebut menolak.

Karena tidak tahan, Shobirin kemudian mengajak DJ untuk memerkosa siswi tersebut. M

odus yang dilakukan Shobirin adalah lebih dulu mengajak bertemu siswi itu. Lalu, Shobirin merayu mengajak siswi tersebut ke suatu tempat.

Menurut Elis, DJ saat ini melarikan diri ke Kalimantan. Pihak kepolisian tetap akan mengejar DJ.

“Kami sudah meminta keterangan dari pihak keluarganya,” katanya.

Sementara itu, Direktur Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban, Nunuk Fauziyah menilai, kondisi kekerasan fisik maupun seksualitas terhadap anak di Tuban sudah pada garis merah, membahayakan.

Jumlah kekerasan seksual sejak bulan Januari sampai Agustus tahun ini mencapai 60-an korban.

Itupun keluarga korban yang mau melaporkan. Jumlah itu semakin besar karena masih banyak keluarga korban yang tidak melaporkan.

“Kalau dibiarkan, Pemkab semakin menganggap masalah kekerasan anak dianggap biasa dan tidak ditangani. Ini membahayakan karena setiap tahun ada sekitar 200 lebih anak jadi korban. Dalam setahun, keluarga korban yang melapor sekitar 100 orang,” ungkapnya.

Nunuk melalui KPR mendesak Pemkab Tuban supaya segera mengatasi permasalahan kekerasan terhadap anak.

Pemkab harus menyediakan shelter, pengacara, transportasi antar jemput korban, tenaga medis, dan psikiater.

“Kalau itu (fasilitas) tidak ada, anak-anak yang menjadi korban kekerasan akan telantar,” pungkasnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas