Miskin Mendadak! 2000 Pohon Cengkih di Tomohon 'Lenyap'
"Ada yang punya 100 pohon cengkih, ada yang 200 pohon, kalau ditotal sampai ribuan. Termasuk pohon siap panen, ada juga pohon berusia 10 tahun."
Editor:
Robertus Rimawan
TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Perkebunan Tetengkoran Tinoor I Tomohon Utara dilaporkan terbakar.
Api merembet hingga membakar tanaman cengkeh.
Perkebunan yang jaraknya 1,5 jam perjalanan dari pemukiman warga itu berisi ribuan pohon cengkeh produktif.
Diperkirakan Oscar Lolowang Warga Tinoor I sudah 60 haktare lebih areal yang terdampak kebakaran.
Api yang muncul sejak beberapa hari lalu belum bisa dijinakkan, kini mulai mendekati wilayah pemukiman.
"Sekarang jarak api dengan pemukiman tinggal 300 meter ada di lokasi kebun kopi (nama kebun)," ujar Lolowang.
Hasil koordinasi dengan warga, Lolowang menyebutkan ribuan pohon cengkeh kena dampak. "Sekitar 2000 pohon ada," sebutnya dari hasil perhitungan sementara.
"Ada yang punya 100 pohon, ada yang 200 pohon, kalau ditotal sampai ribuan. Termasuk pohon siap panen, ada juga pohon berusia 10 tahun. Bahkan ada cengkih yang sudah dipetik tapi tak sempat diselamatkan," kata dia.
Warga sudah berupaya dibantu aparat pemerintah untuk memadamkan api dengan membuat sekat pemisah, namun upaya itu belum maksimal, api masih menyebar.
"Sebagian sudah warga turun, besok (hari ini) lebih banyak lagi yang akan turun," sebut dia.
Rembetan Kebakaran Warembungan
Robby Kalangi, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menungkapkan, kebakaran di perkebunan Tinoor merupakan rembetan dari wilayah Warembungan.
"Kita lalu sudah coba antisipasi, tapi wilaah yang terbakar terlampau luas sehingga upaya membuat bedeng pemisah belum maksimal," kata dia.
Hingga malam upaya minimalisir penyebaran dihentikan, namun kembali akan dilanjutkan dengan kekuatan tambahan dari warga.
Pemadaman memang belum maksimal karena fasilitas mobil damkar tak bisa digunakan, "Tak ada akses damkar bisa masuk," sebut dia.
Sementara itu, kebakaran hutan kota dan perkebunan milik warga di beberapa titik di Kota Manado semakin mengkhawatirkan.
Satu diantaranya yang terbakar hutan kota di Kelurahan Kairagi Weru, Sabtu (26/9).
Angin yang bertiup kencang membuat api dengan cepat merambat, menyebar membakar ilalang, Pohon Kelapa, Pala dan lainnya.
Jhon Sarto warga Kairagi Weru mengatakan, awal kebakaran terjadi sekitar pukul 11:00 wita.
"Api terlihat berasal dari arah Liwas lalu menyebar hingga ke Kairagi Weru," ujar pria berusia 38 tahun ini.
Tak ada akses untuk mobil pemadam masuk membuat kebakaran sulit dipadamkan. Akhirnya warga menggunakan alat seadanya untuk memadamkan api.
"Kami hanya berharap ada air dari satu mata air, kami pakai selang dan menampung air diember lalu menyiram api," katanya.
Bunyi suara ranting yang terbakar pun semakin mendekat ke rumah warga. Mereka pun hanya bisa berjaga-jaga disekitar rumah mengingat yang terbakar cukup besar.
Sebagian perkebunan milik warga pun ludes terbakar, api bahkan mulai menyebar pemukiman padat penduduk.
"Saya sudah imbau agar warga waspada dan mulai menyelamatkan barang berharga seperti surat-surat penting," ujar Wilmar Pontolawokang, Kepala Lingkungan VI, Kairagi Weru.
Dia mengatakan, dibeberapa titik warga hanya berusaha memperlambat api menyebar dengan cara memisahkan jalan api dari ilalang kering dan menutup api dengan tanah.
"Karena musim panas air sangat sulit didapat kami hanya memadamkannya dengan cara menutup api dengan tanah agar tidak menyebar. kami juga tidak bisa bermuat banyak sebab Damkar pun tidak bisa masuk kemari," ujarnya.
Lanjutnya, dari 77 Kepala Keluarga (KK) yang berada di Lingkungan VI sudah ada empat KK yang dievakuasi sebab api mulai mendekati rumah empat KK tersebut. Tak hanya itu, menurutnya, hutan itu juga masih memiliki satwa langka.
"Disini masih ada tarsius dan burung Manguni, kelangsungkan hidup mereka pun terancam," tambah Wilmar.
Dia berharap semoga api bisa padam dengan cepat, atau ada cara dari pihak terkait untuk turun tangan membantu memadamkan ganansnya si jago merah.(Tribun Manado/Ryo Noor/Valdy Suak)