Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Kapolri Marah, Perintahkan Usut Tuntas Pembantaian Aktivis di Lumajang

Kapolri Jenderal Badrotin Haiti dikabarkan marah atas terjadinya penganiayaan dan pembunuhan aktivis penolak tambang di lumajang

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sugiyarto
zoom-in Kapolri Marah, Perintahkan Usut Tuntas Pembantaian Aktivis di Lumajang
surya/zainuddin
Demonstrasi menolak penambangan liar Lumajang di depan Mapolda Jatim, Senin (28/9/2015). 

TRIBUNNEWS.COM, LUMAJANG - Kapolri Jenderal Badrotin Haiti dikabarkan marah atas terjadinya penganiayaan dan pembunuhan warga Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

Karenanya, Kapolri menjadikan kasus ini atensinya.

Kapolri Badrodin kemudian memerintahkan Kepolisian Resor Lumajang melalui Kapolda Jawa Timur Irjen Anton Setiadji untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

"Kapolri marah karenanya beliau memerintahkan kepada kami melalui kapolda tidak main-main dalam menangani kasus ini".

"Kami akan mengusut tuntas kasus ini. Kami juga sudah di-back up penyidik dari Polda Jatim," tegas Kapolres Lumajang AKBP Fadly Munzir Ismail, Senin (28/9/2015).

Karenanya Fadly berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut.

Kapolres yang baru menjabat tiga hari itu meminta masyarakat Selok Awar-Awar mempercayakan penanganan kasus itu kepada polisi.

Rekomendasi Untuk Anda

Fadly menambahkan penganiayaan dan pembunuhan tersebut dilakukan oleh orang yang tidak memiliki hati nurani.

Selain melakukan penyelidikan, polisi sampai saat ini masih menjaga Desa Selok Awar-Awar.

Penjagaan dilakukan secara terbuka dan tertutup, juga dibantu oleh personel TNI.

Seperti diberitakan, dua warga setempat dianiaya segerombolan orang.

Salim Kancil dianiaya secara sadis sampai akhirnya meninggal dunia.

Tosan, mengalami luka parah dan kini masih dirawat di RS di Malang.

Keduanya dianiaya karena menolak tambang pasir di desa setempat.

Mereka dianiaya beberapa jam sebelum melakukan demostransi penolakan penambangan di pesisir laut selatan itu.

Sumber: Surya
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas