Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Tak Ada Biaya Berobat, Dawi Hanya Tahan Sesak Napas yang Dideritanya

Malahan Dawi saat ini telah menawarkan lagi tanah pekarangan miliknya yang tidak seberapa luas untuk dijual guna biaya berobat.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Wahid Nurdin
zoom-in Tak Ada Biaya Berobat,  Dawi Hanya Tahan Sesak Napas yang Dideritanya
suryamalang.com
Dawi (75) penderita sesak nafas hanya dirawat istri di rumahnya Desa Tegalan, Kecamatan Kandat, Sabtu (10/10/2015). 

TRIBUNNEWS.COM, KEDIRI  -  Dawi (75) warga Desa Tegalan, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri hanya terbaring lemah menahan sakit di ranjang sederhana rumahnya.

Kakek ini tidak mampu berobat ke pengobatan medis karena telah kehabisan biaya.

Sakit sesak nafas itu sudah diderita Dawi sejak 5 tahun terakhir.

Berbagai pengobatan medis dan alternatif telah dilakukan namun penyakitnya tak kunjung sembuh.

Menurut Suwarti, istrinya berbagai pengobatan telah dilakukan ke sejumlah rumah sakit dan berobat alternatif.

Namun sesak nafas yang diderita suaminya tak kunjung sembuh.

"Sudah sering keluar-masuk rumah sakit dan menjalani pengobatan alternatif, namun penyakit batuk dan sesak nafasnya tak kunjung sembuh," ungkap Suwarti di rumahnya yang sederhana, Sabtu (10/10/2015).

Rekomendasi Untuk Anda

Untuk biaya berobat suaminya telah menghabiskan banyak dana.

Sudah banyak harta bendanya yang terjual untuk keperluan berobat.

Malahan Dawi saat ini telah menawarkan lagi tanah pekarangan miliknya yang tidak seberapa luas untuk dijual guna biaya berobat.

Suwarti saat ini mengaku lagi bingung untuk mendapatkan biaya berobat bagi suaminya. Apalagi suaminya tidak punya kartu penjaminan kesehatan dari pemerintah.

Sementara Suselo salah satu kerabatnya menuturkan, saat ini keluarga Dawi sudah tidak punya lagi biaya berobat.

Sehingga untuk biaya berobat harus menjual tanah dan harta bendanya.

Bagi Dawi yang sudah tidak memiliki penghasilan, untuk mengikuti progam iuran BPJS setiap bulannya dirasa sangat memberatkan.

Keluarga Dawi juga mengeluhkan pelayanan untuk mendapatkan kartu keluarga (KK) guna mengurus BPJS.

Karena penjelasan dari perangkat desa, KK baru jadi setelah diproses selama 3 bulan.

"Apakah suami saya harus menunggu sampai tiga bulan lagi sampai KK-nya selesai. Padahal penyakitnya sekarang semakin parah," ungkap Suwarti. (*)

Sumber: Surya
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas