Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pakar Kriminologi Melihat Ada Tiga Pesan di Balik Teror Bom di Depan Rumah Dinas Ridwan Kamil

bom yang meledak di seberang rumah dinas Wali Kota Bandung itu sebagai bentuk provokasi.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sugiyarto
zoom-in Pakar Kriminologi Melihat Ada Tiga Pesan di Balik Teror Bom di Depan Rumah Dinas Ridwan Kamil
TRIBUN JABAR/BUKBIS CANDRA ISMET BEY
Sejumlah Tim dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri mengambil sejumlah sampel di Tempat Kejadian Perkara (TKP) ledakan mobil peliputan milik TV One di Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Jumat (1/1/2015). Ledakan yang bersumber dari mobil APV milik stasiunTV One tersebut, diduga berasal dari bom molotov cocktail berisi paku yang terjadi tepat di depan Rumah Dinas Walikota Bandung dan tidak menimbulkan korban jiwa. TRIBUN JABAR/Bukbis Candra Ismet Bey 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Teuku Muh Guci S

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Pakar Kriminologi Unpad, Yesmil Anwar, menilai ledakan bom di bawah mobil Suzuki APV milik TV One di Jalan Dalem Kaum, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (1/1/2015), sekitar pukul 01.20 WIB, merupakan aksi teror.

Ia pun menilai, pelaku mencoba menyampaikan pesan melalui meledaknya bom tersebut.

"Ada tiga pesan yang ditinggalkan oleh pelaku teror tersebut," kata Yesmil kepada Tribun melalui sambungan telepon, Jumat (1/1/2016).

Yesmil menjelaskan, pelaku ingin menginginkan sesuatu yang harus dijawab pemerintah dan pihak kepolisian lantara melakukan aksinya pada malam tahun baru

Sedangkan, bom yang meledak di seberang rumah dinas Wali Kota Bandung itu sebagai bentuk provokasi.

Adapun pelaku teror meletakkan bom di mobil stasiun televisi nasional itu agar pesan pelaku diketahui masyarakat. "Namun hal ini tetap harus dikaji lebih jauh," kata Yesmil.

Rekomendasi Untuk Anda

Yesmil menilai, aksi teror bom di perayaan malam tahun baru itu bisa juga berkaitan dengan masalah yang terjadi selama 2015.

Bisa jadi juga aksi itu untuk menuduh kelompok tertentu yang terkait dengan aksi teror.

Namun keterkaitan aksi teror dengan kelompok tertentu harus dibuktikan secara sistematik.

"Pertama kita lihat dulu bentuk-bentuk dari ancamannya, kejadiannya seperti apa, dan aliran dananya dari mana," ujar Yesmil.

Yesmil pun berharap, agar aparat kepolisian cepat mengungkap pelaku dan motif kasus tersebut.

Karena pada dasarnya masyarkat ingin mengethaui pesan apa yang ingin disampaikan oleh pelaku.

"Apakah betul kejadian ini dalam konteks radikalisme, terorisme sistematis yang berkaitan dengan ISIS? atau jangan-jangan ada tujuan tertentu lainnya," kata Yesmil. (cis)

Sumber: Tribun Jabar
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas