Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kisah Sopir Taksi Muslim di Pemakaman Pendeta Petrus Agung

Di tengah pemakaman Pendeta Petrus Agung Purnomo, tersisip kisah sopir taksi Muslim.

Kisah Sopir Taksi Muslim di Pemakaman Pendeta Petrus Agung
Istimewa
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, melayat jenazah Pendeta Petrus Agung Purnomo di Gereja JKI Kerajaan Injil di Semarang, Senin (14/3/2016). 

"Selama hidupnya beliau sering melakukan pelayanan ke masyarakat," ucap Andi (40), warga Semarang Barat, yang juga anggota jemaat.

 

Semasa hidup Pendeta Petrus Agung terkenal pelayanannya ke masyarakat hingga tingkat nasional. "Saya tidak mengira dan menduga beliau akan meninggal dunia secepat ini," tukas dia.

Seorang guru Yayasan Pendidikan Terang Bangsa, Natanael Suryanto (35), punya pengalaman melihat Pendeta Petrus Agung menolong orang tanpa memandang bulu.

"Kami semua ya kehilangan sekali. Saya juga sangat berkesan dengan ajarannya," ungkapnya.

Jemaat kaget mendengar Pendeta Petrus Agung meninggal. Tak ada jejak ia sakit sebelumnya. Kepergiannya membuat seorang jemaat terpukul, menangis di depan kaca penutup peti jenazah.

Beberapa kali ia mengetukkan kaca penutup peti. Dari balik kaca, Pendeta Petrus Agung memakai jubah ungu. "Bangkit Pak, ayo bangun dari tidur Pak Petrus," ucap Kristin.

Seorang pria memeluk tubuh Kristin lalu memeluk sambil menjauh mundur dari peti yang membungkus Pendeta Petrus Agung. Kristin akhirnya diarahkan duduk di bangku gereja.

"Saya hanya jemaat Pak Petrus. Bukan saudara, maupun teman. Pak Petrus pendeta terbaik yang saya tahu, beliau sempurna," aku Kristin usai ditenangkan sejumlah perempuan setengah baya.

Halaman
123
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jateng
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas