Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dikejar Pertanyaan Soal Inisiatif Otopsi, Keluarga Siyono Merasa Diintimidasi Propam

keluarga Siyono yaitu sang ayah Mardiyo dipanggil untuk dimintai keterangab oleh Div Propam Polri.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Khaerur Reza
Editor: Sugiyarto
zoom-in Dikejar Pertanyaan Soal Inisiatif Otopsi, Keluarga Siyono Merasa Diintimidasi Propam
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas (kedua kiri), Ketua tim dokter forensik dr Gatot Suharto SpF (kiri) serta dua Komisioner Komnas HAM Siane Indriani (kedua kanan) dan Hafid Abbas menunjukkan foto autopsi jenazah terduga teroris asal Klaten, Siyono di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (11/4/2016). Hasil autopsi diantaranya yaitu sebelumnya belum pernah dilakukan autopsi terhadap jenazah dan kematian Siyono disebabkan benda tumpul yang dibenturkan ke bagian rongga dada hingga membuat tulang dada patah ke arah jantung. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Khaerur Reza

TRIBUNNEWS.COM, BANTUL - Seusai hasil otopsi atas jenazah terduga teroris asal Klaten Siyono dari Tim Dokter forensik keluar ke publik, pihak keluarga Siyono yaitu sang ayah Mardiyo dipanggil untuk dimintai keterangab oleh Div Propam Polri.

Namun pemanggilan tersebut dikritisi oleh Tim Advokasi Kemanusiaan yang selama ini mendampingi keluarga Siyono, pasalnya mereka menganggap ada intimidasi serta pertanyaan yang tidak semestinya ditanyakan.

Anggota tim yang mendampingi selama pemerikasaan Shandy Herlian Firmansyah menceritakan pemanggilan yang dilakukan berubah-ubah tempatnya mulai dari Kantor Polres Klaten, Balai Desa hingga akhirnya dilakukan di Polsek Cawas Klaten.

Selain itu ada pertanyaan yang menurutnya kurang pas jika ditanyakan terkait dugaan kode etik seperti asal muasal otopsi dan kenapa nekat melakukan otopsi.

Padahal menurutnya hal tersebut bukan ranah Div Propam Polri yang harusnya hanya menyelidiki maslaah dugaan pelanggaran kode etik seperti proses penangkapan dan adanya surat tugas atau tidak.

"Bagi kami, ini teror kepada keluarga Siyono ini mencari-cari. Apa hubungannya masalah penangkapan dan autopsi, itu hak keluarga kerena tidak mendapat kejelasan penyebab kematian Siyono. Ini membuat keluarga tidak nyaman," ujarnya menambahkan.

Rekomendasi Untuk Anda

Sang ayah sendiri kemudian hanyaenjawab dia sudah menyerahkan sepenuhnya masalah ini kepada Kuasa Hukum dari Tim Advokasi Kemanusiaan.

Selain itu beberapa upaya intimidasi dan teror juga dikatakan sering dialami keluarga Siyono terutama pasca proses otopsi.

Dr Trisno Raharjo mengatakan hal ini bisa diindikasikan adanya teror terselubung agar keluarga jengah dan akhirnya kasus ini berlalu.

"Bisa saja nanti keluarga jengah lalu tidak mau memperpanjang kasus ini, atau pergi dari kampung. Tapi kita tidak mau berandai-berandai kita akan kawal kasus ini sampai tuntas," tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas