Variasi Pungutan Liar di Pantai Anyer Bikin Merinding Wisatawan
Wisata di Banten membuat pengunjung tak habis pikir. Banyak pungutan liar beragam cara yang mampu menjebol kantong wisatawan.
Editor: Y Gustaman
TRIBUNNEWS.COM, BANTEN - Maraknya pungutan liar dalam berbagai cara di kawasan wisata Pantai Anyer dinilai membuat konsumen tidak nyaman berwisata ke sana.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia meminta Gubernur Banten Rano Karno menindak tegas oknum petugas dan pengusaha rumah makan yang sengaja merugikan konsumen.
"YLKI mendesak Gubernur Banten untuk memberantas pungli-pungli itu atau melegalkan tarif resmi guna mendulang pendapatan asli daerah," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, Sabtu (7/5/2016).
Selain memberantas pungli, YLKI juga menyarankan agar area wisata sejarah di Masjid Agung yang berlokasi di Banten Lama lebih diperhatikan.
Area Masjid Agung terlihat kotor di segala sudutnya. Pemandangan sampah di sana membuat kesan Masjid Agung sebagai tempat yang kumuh dan tidak tertata.
"Sama sekali tidak mencerminkan lingkungan masjid yang seharusnya rapi, bersih, sehat, dan Islami. Sudah begitu, buat masuk area masjid saja ada pungli juga, macam 'uang kopi' Pak Ogah sama pungutan parkir yang tidak wajar," tutur Tulus.
Catatan YLKI, praktik pungli di Pantai Anyer berlangsung seperti di Pantai Matahari Carita. Di sana, ada seorang preman yang mengaku petugas resmi mengenakan tarif parkir sebesar Rp 100 ribu per mobil dan menunjukkan bukti tiket.
Pungli serupa juga didapati pihak YLKI di kawasan Pantai Jambu. Petugas di sana mematok tarif parkir mobil sebesar Rp 50 ribu.
Kemudian, di Pantai Karang Bolong, ada yang meminta uang masuk ke pantai senilai Rp 15 ribu per orang. Tarif yang denaikkan itu belum termasuk dengan biaya parkir kendaraan di sana.
Selain itu, sejumlah rumah makan ikut menerapkan praktik pungli dengan mematok harga makanannya hingga sepuluh kali lipat dari harga normal.
Keluhan serupa juga pernah ramai di media sosial. Salah satu pemilik akun Facebook bernama Dewi Kabisat Andriyani mengunggah kuitansi pembayaran makanan sejumlah Rp 1 juta yang disebutnya berada di sebuah restoran di Anyer, September 2014 lalu.
Dalam kuitansi yang tak menyebutkan nama restoran tersebut, ada tujuh menu makanan dan minuman yang dipesan. Namun, harga tersebut memang terbilang mahal.
Dua ikan bakar seharga Rp 400 ribu, satu cumi saus tiram Rp 180 ribu, tiga cah kangkung Rp 200 ribu, satu baso sapi Rp 20 ribu, dua nasi putih Rp 90 ribu, dua lalap sambal Rp 30 ribu, dan satu es teh manis Rp 80 ribu. (Kontan/Andri Donnal Putera)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.