Pelajar Asia Pasifik Belajar Budaya Tradisional di Yogya
Keragaman budaya dan produk kerajinan di Yogyakarta menjadi daya tarik tersendiri bagi pelajar asing yang datang ke Kota Gudheg ini.
Editor: Sugiyarto
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNNEWS.COM, BANTUL - Keragaman budaya dan produk kerajinan di Yogyakarta menjadi daya tarik tersendiri bagi pelajar asing yang datang ke Kota Gudheg ini.
Bahkan, banyak pelajar asing yang merasakan luhurnya budaya dalam berbagai aspek kehidupan.
Mereka pun merasakan luar biasanya Indonesia hingga mengubah cara pandang mereka mengenai isu terorisme.
Tangan Andrew Howes tak berhenti bergerak melipat dan mengelem anyaman berwarna merah.
Dia nampak senang bisa membuat kerajinan kotak pensil dari bambu bersama beberapa teman lainnya di pendopo Tembi Rumah Budaya, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Rabu (27/7/2016).
Dia baru sekali ini membuat kerajinan berbahan baku alam.
Pelajar sekolah menengah dari Canberra, Australia ini adalah satu dari 30 pelajar yang berasal dari 15 negara Asia Pasifik yang mengikuti program International Students Cultural Program (ISCP).
Program baru di bawah Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memperkenalkan Indonesia dari sisi lain.
Para peserta ini, berasal dari Australia, Kamboja, Mesir, Fiji, India, Indonesia, Jepang, Laos, Malaysia, Myanmar, New Caledonia, Papua Nugini, Philipina, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam.
Mereka tinggal di tengah-tengah masyarakat sejak tanggal 18 hingga 30 Juli 2016 di dua kota, Jakarta dan Yogyakarta.
Bagi Andrew, program ini cukup menyenangkan dan menantang. Selain itu, mengubah perspektifnya tentang keamanan di Indonesia.
Beberapa kali, Andrew menyaksikan, membaca, maupun mendengar tentang berita terorisme di Indonesia.
Namun, setelah dua minggu berada di Indonesia, khususnya Yogyakarta, pandangan ini berbanding terbalik.