Pedagang Protes Penutupan Jembatan Beurawe
Puluhan pedagang di Simpang Surabaya, Banda Aceh, Kamis (1/9/2016), memprotes penutupan Jembatan Beurawe. Omzet dagang mereka menurun.
Editor:
Y Gustaman
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Eddy Fitriady
TRIBUNNEWS.COM, BANDA ACEH – Puluhan pedagang di Simpang Surabaya, Banda Aceh, Kamis (1/9/2016), memprotes penutupan Jembatan Beurawe.
Selama ini jembatan tersebut akses utama masyarakat menuju toko-toko mereka. Para pedagang didampingi Yayasan Advokasi Rakyat Aceh menilai penutupan jembatan berdampak pada penghasilan mereka sehari-hari.
Amatatan Tribunnews.com, massa membentangkan spanduk dan poster bertuliskan kata-kata protes warga.
Samsunal Hamsa, seorang pedagang mengatakan selama penutupan Jembatan Beurawe sejak sebulan lalu, omzet para pedagang langsung merosot.
Para pedagang tak menolak pembangunan tersebut, tapi jangan sampai menganggu usaha mereka. Sebab terdapat seratusan pedagang berjualan di kawasan itu.
"Sebelumnya saya bisa menjual tiket travel 60 sampai 70 lembar per hari, namun sekarang yang laku hanya 3 sampai 4 lembar per hari," ujar Samsunal.
Dia mewakili para pedagang meminta Pemerintah Aceh, Pemkot Banda Aceh serta kontraktor agar dapat memberi kompensasi kepada pedagang atas kerugian yang dialami selama ini. Mereka juga meminta agar dibangun jembatan darurat di sisi jembatan yang sudah ada, sehingga lalu lintas di depan toko mereka tetap berjalan.
Ketua YARA, Safaruddin, mengatakan pihaknya hanya memdampingi para pedagang agar aspirasi mereka didengar pemerintah dan meresponsnya segera.
Menurut dia, pedagang yang terganggu merupakan para pembayar pajak rutin dan memiliki izin usaha. Tapi pemerintah malah mengabaikan hak mereka yang telah memenuhi kewajibannya.