Mengenal Benteng Peninggalan Inggris di Kota Bengkulu
Mengenakan pakaian batik, Suparhim juga menjelaskan, bahwa benteng tersebut merupakan pengembangan dari Benteng Fort York.
Penulis:
Lendy Ramadhan
Editor:
Mohamad Yoenus
Laporan Wartawan Tribunnews, Lendy Ramadhan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebagai salah satu provinsi di Indonesia, Bangkulu punya beberapa tempat wisata yang indah, satu di antaranya benteng peninggalan Inggris pada masa penjajahan, "Fort Malborough."
Terletak di Kota Bengkulu, benteng tersebut didirikan oleh persekutuan dagang Inggris, East India Company (EIC) pada 1713 hingga 1719 di masa pemerintahan Gubernur Joseph Callet.
Menurut keterangan Kepala Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Bengkulu, Suparhim Onoh, di masa penjajahan Inggris, Benteng tersebut berfungsi sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan Penjajah Inggris.
Mengenakan pakaian batik, Suparhim juga menjelaskan, bahwa benteng tersebut merupakan pengembangan dari Benteng Fort York.
"Yang jelas Benteng Malborough itu dibangun 1714. Dan itu merupakan peningkatan dari benteng yang udah ada, namanya Fort York. Ini dibangun sebagai pusat pertahanan dan pusat pemerintahan saat itu," kata Suparhim Onoh.
Benteng Malborough memiliki beberapa ruangan, di antaranya: Bastion, Revaline, Ruang Tahanan, dan Gudang Peluru.
Selain itu benteng tersebut juga terdapat tiga makam tokoh Inggris pada masa penjajahan, di antarnya: Charles Murray, Residen Thomas Parr, dan Robert Hamilton.
Benteng berdesain gaya Eropa Kuno itu merupakan salah satu benteng terbesar di Asia Tenggara. Sejarah mencatat, benteng ini pernah diduduki oleh para pejuang Bengkulu di bawah pimpinan Rajo Lelo.
Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, mengaku, jumlah pengunjung benteng yang merupakan simbol pariwisata Bengkulu selain Rafflesia Arnoldi itu, cukup banyak.
"Ya relatif si yah, kalau hari libur dia penuh. Key point pariwisata Bengkulu salah satunya benteng itu," ujar Suparhim Onoh. (*)