La Nina Redam Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Barat
Fenomena La Nina selama 2016 mampu meredam potensi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat.
Penulis:
Tito Ramadhani
Editor:
Y Gustaman
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Mempawah Wan Dayantolis mengungkapkan catatan kondisi iklim pada 2016 dan pengaruhnya pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
"Berdasarkan data hasil observasi Staklim Mempawah dan analisis model iklim menunjukkan curah hujan pada 2016 di Kalimantan Barat lebih tinggi atau lebih basah dibandingkan rata-ratanya selama 30 tahun," ungkap Dayantolis, Minggu (1/1/2017).
Salah satu faktor curah hujan meningkat adalah fenomena La Nina lemah yang menyebabkan tambahan suplai massa udara di atas wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat.
Hal ini membawa dampak positif pada penanganan karhutla. Tingginya curah hujan membuat potensi munculnya titik panas sebagai indikator awal terjadinya karhutla mengecil.
"Hujan akan membuat semak-semak dan pepohonan tetap hidup dan tanah menjadi basah bahkan tergenang air. Dengan demikian potensi munculnya rambatan api menjadi teredam," jelas dia.
Dikatakan dia meski secara akumulasi tahunan kondisi iklim cukup basah, ternyata terdapat periode jeda hujan atau hari tanpa hujan pada Agustus 2016 selama 21 hari.
Selama itu menyebabkan peningkatan jumlah titik-titik panas, hingga menyebabkan karhutla di beberapa wilayah di Kalimantan Barat.
"Berkat kesiap-siagaan pemerintah dan relawan sebagian titik api dapat dilokalisir. Kemudian, turunnya hujan pada akhir Agustus menyebabkan semua titik api padam," beber dia.
Jeda hujan kedua terjadi pada September 2016 selama 22 hari. Pada fase ini jumlah titik api meningkat tajam sehingga asap dari karhutla cukup signifikan terlihat.
Tapi, turunnya hujan deras akhir September berhasil memadamkan semua titik api. Hingga akhir tahun curah hujan cukup merata.
"Sehingga berdasarkan citra satelit sejak September tidak terlihat lagi munculnya titik panas," ungakp Dayantolis.
Kondisi 2016 ini, menurut dia, sangat berbeda jauh dengan 2015. Kondisi El Nino pada 2015 menyebabkan curah hujan di Kalimantan Barat sangat minim.
Curah hujan tinggi menjadi salah satu elemen signifikan guna meredam karhutla. Sebaliknya, ketika terjadi jeda hujan potensi karhutla akan meningkat.
Perlu dicatat iklim masih merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan. Sehingga masyarakat diminta sadar menjaga kelestarian alam.
Baca tanpa iklan