Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pria Mengamuk Tusuk Kakak Ipar dan Sandera Keponakannya, Begini Ceritanya

Door..dorr! Bunyi letusan pistol terdengar saat polisi melumpuhkan Vulla, pelaku penyanderaan dua balita keponakannya sendiri di dalam rumah.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Pria Mengamuk Tusuk Kakak Ipar dan Sandera Keponakannya, Begini Ceritanya
TRIBUNKALTIM.CO/JUNISAH
Anggota Polisi dari Polres Tarakan berusaha membujuk Vulla yang ada di dalam rumah untuk membebaskan dua sandera balita di Jalan Gajah Mada RT 1 Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Selasa (4/4/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, TARAKAN - Door..dorr! Bunyi letusan pistol terdengar saat polisi melumpuhkan Vulla, pelaku penyanderaan dua balita keponakannya sendiri di dalam rumah.

Peristiwa terjadi di Jalan Gajah Mada, RT 1, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Tarakan Barat, Kalimantan Utara, Selasa (4/4/2017).

Tembakan anggota polisi mengenai bagian badan Vulla, sampai akhirnya tewas.

Dua balita, yakni Fazri (5) dan Aisyah (2) yang sempat disandera berhasil diselamatkan.

Jenazah Vulla langsung dimasukkan dalam kantong mayat warna oranye dan dibawa ke Ruang Jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan menggunakan mobil ambulans.

Sebelum menyandera dua balita tersebut, Vulla sempat mengamuk melukai Ernawati, ibunda dua balita hingga mengalami luka di bagian lengan, dada, dan paha kiri.

Kini Ernawati dalam kondisi kritis dirawat di RSUD Tarakan.

Rekomendasi Untuk Anda

Sebelum ditembak, polisi sudah melakukan berbagai upaya membujuk Vulla agar melepaskan kedua keponakannya.

Selama dua jam melakukan pendekatan, Vulla juga tidak mau melepaskan dua bocah itu.

Bahkan polisi yang dibantu anggota TNI terus membujuk Vulla, karena melihat Fazri yang berada di dekapan Vulla mengalami luka di bagian lengan dan perut.

Karena kondisi membahayakan sang bocah, polisi pun mengambil langkah untuk melumpuhkan Vulla.

Tembakan mengenai bagian badan Vulla hingga akhirnya meninggal.

Peristiwa penyenderaan paman terhadap kedua keponakan yang masih kecil-kecil bermula sekitar pukul 12.00 Wita.

Saat itu Ernawati menegur Vulla agar ganti baju supaya tidak sakit.

Bukannya ganti baju, usai ditegur Vulla malah masuk ke dapur mengambil pisau.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba pisau yang dia dibawa diarahkan ke Ernawati yang sedang menidurkan kedua anaknya di kamar.

Seperti kerasukan setan, Vulla beberapa kali menusuk Ernawati di bagian lengan, dada, dan paha kiri.

Melihat kondisi Ernawati yang berdarah-darah, Santi, istri Vulla yang juga adik Ernawati langsung berteriak.

Dia berusaha menarik tangan suaminya agar tidak lagi menusuk kakaknya.

"Saya sudah bilang.. Sudah Vulla!, sudah Vulla!. Saya malah didorong ke belakang. Saya melihat kakak saya ditusuk-tusuk beberapa kali sama suami saya. Pokoknya ngeri sekali. Saya sampai tidak sanggup melihat kakak saya seperti itu," ucapnya dengan berlinangan air mata.

Santi sendiri tidak mengetahui apa penyebabnya sampai suaminya tega melukai kakaknya.

Padahal selama ini kakaknya sangat baik terhadap dirinya dan sang suami.

Setiap pulang dari menjaga tambak, ia dan suaminya tinggal di rumah kakaknya.

"Selama ini tidak ada masalah antara kakak dan suami saya, semuanya baik-baik saja," katanya.

Ia pun tidak tahu kenapa suaminya menjadi tega menusuk kakaknya.

"Padahal cuma ditegur ganti baju supaya tidak sakit saja, kenapa bisa seperti ini," ungkapnya sambil terus menangis.

Sementara itu, seorang tetangga yang namanya enggan disebutkan menuturkan, pisau yang digunakan untuk menusuk Ernawati sempat diambil para tetangga.

Namun, saat Vulla akan diamankan, ternyata ia langsung masuk ke rumah dan lari ke kamar.

Dia menyandera dua keponakannya yang berada di dalam kamar menggunakan sebilah parang.

"Tetangga di sini sudah mau mengamankan Vulla. Eh ternyata Vulla malah menyandera keponakannya menggunakan sebilah parang," katanya.

Tragisnya, parang yang dipegang Vulla diarahkan di leher salah satu keponakannya bernama Fazri.

"Melihat ini mana ada yang berani, karena tetangga takut kalau Vulla melukai keponakannya," ujarnya.

Ia melihat ada tiga luka tusukan yang diderita Ernawati, yaitu bagian lengan, dada dan paha kiri.

"Saya lihat lukanya, ngeri sekali karena banyak darah keluar. Baju saya ini tadi penuh darah dan lantai rumah saya tuh masih ada bercak darahnya Ernawati," ucapnya.

Saat peristiwa terjadi banyak warga yang menonton sepanjang jalan menuju gang sempit.

Ada pula masyarakat yang rela sampai naik ke atas tembok untuk melihat penyanderaan yang dilakukan Vulla.

Padahal beberapa kali polisi dan petugas sudah mengusir untuk tidak menyaksikan peristiwa tersebut.

Tapi tidak dipedulikan sebagian masyarakat yang ingin melihat secara dekat peristiwa penyanderaan yang dilakukan paman terhadap kedua keponakannya.

Sumber: Tribun Kaltim
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas