Peserta Pengelukatan Massal Membeludak, Enam Orang Pingsan
Terik matahari dan membeludaknya peserta menyebabkan sejumlah umat kelelahan dan kehabisan napas hingga akhirnya pingsan.
Editor:
Dewi Agustina
TRIBUNNEWS.COM, TABANAN - Kerumunan warga antre di bawah tenda yang disediakan oleh Pemkab Tabanan dalam pelaksanaan upacara Melukat Sapuh Leger dan Mebayuh Oton massal di areal parkir Pura Luhur Pakendungan di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali, Jumat (28/7/2017).
Terik matahari dan membeludaknya peserta--diperkirakan mencapai angka 15 ribu orang--menyebabkan sejumlah umat kelelahan dan kehabisan napas hingga akhirnya pingsan.
Dari pantuan di lokasi, enam orang peserta melukat massal lemas dan pingsan.
Rata-rata mereka mengalami sesak karena berhimpitan untuk mendapatkan tirta pengelukatan.
Seorang peserta, Ayu Indrayanti, asal Pasekan, Kota Tabanan, tampak muntah-muntah. Tubuhnya lemas sehingga harus dipapah keluarganya.
"Panas dan sesak, saya tidak kuat,” katanya dengan nada pelan.
Ayu Indrayanti tiba di lokasi pengelukatan massal sejak pukul 06.00 Wita.
Ia menyebut antrean yang panjang dan padat membuat suasana pengelukatan menjadi panas.
Seorang peserta lain asal Bedulu Gianyar, Dian Antari (16), sempat pingsan.
Remaja kelas XI SMAN 2 Mas Ubud ini harus mendapatkan terapi oksigen karena lemas.
Sempat baikan, setelah berdiri Dian Antari kembali pingsan untuk kedua kalinya dan kembali mendapatkan terapi oksigen dalam ambulans.
Setelah itu, berturut-turut peserta lain lemas dan pingsan, mulai dari Kadek Yuliani (16) kelas XI di SMAP Kediri asal Desa Pandak Gede, Ni Kadek Oka Rahayu asal Banjar Telengis, Desa Bengkel, Ni Made Lilis Vilianti (15) asal Banjar Panti, Desa Pandak Gede, dan Komang Gita Aritania Sawitri asal Banjar Wanasari Baleran.
Ayah dari Kadek Oka Rahayu, I Gede Karsana, menyebutkan anaknya kegerahan karena berdesakan saat akan nunas tirta pengelukatan.
Baca: PNS Telanjang Keliling Kampung Naik Motor akan Dirawat di RSUD Dadi Makassar
Kondisi demikian ditambah panas menyengat dari tenda membuat anaknya lemas dan tumbang dalam antrean.
"Sebelum ke sini anak saya sudah sarapan, karena keadaan seperti itu makanya tumbang," terangnya.
Karena kondisinya yang drop, dua orang terpaksa dibawa ke BRSUD Tabanan dengan menggunakan ambulans. Mereka adalah Kadek Yuliani dan Made Lilis Vilianti.
Kakak Made Lilis Vilianti, Aditya Krisna, mengatakan saat siang adiknya sudah makan.
Namun Lilis tidak kuat menahan panas dan berdesakan dengan ribuan orang sehingga tumbang.
"Tadi sudah makan siang," ujarnya yang berada di sebelah Made Lilis.
Seorang peserta, Wayan Subrata, mengkritisi panitia yang kurang memperhitungkan situasi dan kondisi.
Ia menyebut harusnya panitia menyiapkan tempat lebih luas mengingat banyaknya peserta.
Tempat nunas tirta pengelukatan juga harus ditambah sehingga tidak perlu menimbulkan antrean panjang.
"Harusnya lokasi lebih luas. Saya saja masih nunggu agar peserta lebih sepi. Sejak pukul 07.00 Wita sudah di sini," ujar warga asal Banjar Kebon, Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, ini.
Peserta lain, Ni Luh Ayu Putu Dewi Rahmawanti (30), mengaku sejak pukul 06.00 Wita telah tibadi Pura Luhur Pakendungan untuk mengikuti prosesi ritual melukat.
Acara baru selesai sekitar pukul 13.00 Wita.
"Antreannya lama, berdesak-desakan. Jika bisa, nanti panitia acara ini mencari tempat lebih luas," paparnya.
Sekretaris Kabupaten Tabanan, I Nyoman Wirna Ariwangsa, tidak menyangka antusias masyarakat terhadap acara melukat Sapuh Leger dan Mebayuh Oton massal sangat tinggi.
Ia memperkirakan 15 ribu orang mengikuti pengelukatan massal sehari jelang Tumpek Wayang ini.
"Perkiraan panitia tidak sampai segitu. Makanya panitia menyiapkan nomor antrean sekitar enam ribu saja. Ini akan menjadi bahan evaluasi kami," ujarnya.
Terkait warga yang pingsan dan harus mendapatkan perawatan di BRSUD Tabanan, panitia acara akan menanggung biaya pengobatan.
Baca tanpa iklan