Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Simon Ajak Mahasiswa Tangkal Gerakan Radikalisme

Simon juga berharap bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan sosial perlu menjadi peneduh suasana

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Simon Ajak Mahasiswa Tangkal Gerakan Radikalisme
IST
Acara bertema "PMII Menjawab Kompleksitas Sosial, Nasionalis, Pluralis, Radikalis dalam Menyongsong Momentum Demokrasi" dalam Kolokium Radikalisme & Pelatihan Kader Lanjut (PKD) Pengurus Cabang PMII Banyuwangi, di Balai Pelatihan Kerja, Muncar, Banyuwangi, Sabtu (4/8). 

Direktur CISS: Ilmu Intelijen Dapat Menangkal Gerakan Radikalisme

TRIBUNNEWS.COM - Direktur Eksekutif Center of Intelligence and Strategic Studies (CISS), Ngasiman Djoyonegoro, mengatakan ilmu intelijen sangat penting dikuasai oleh para mahasiswa guna mendeteksi gerakan radikalisme.

"Mahasiswa harus jadi bagian dan berada di garda terdepan dalam menangkal gerakan radikalisme. Karena itu pengetahuan tentang ilmu intelijen juga perlu bagi mahasiswa," kata Ngasiman Djoyonegoro saat mengisi materi dalam Kolokium Radikalisme & Pelatihan Kader Lanjut (PKD) Pengurus Cabang PMII Banyuwangi, di Balai Pelatihan Kerja, Muncar, Banyuwangi, Sabtu (4/8/2018).

Tak hanya untuk menangkal radikalisme, dalam acara yang diberi tema "PMII Menjawab Kompleksitas Sosial, Nasionalis, Pluralis, Radikalis dalam Menyongsong Momentum Demokrasi" itu, Simon, panggilan akrab Ngasiman Djoyonegoro, mengatakan ilmu intelijen juga berguna untuk mendeteksi sekaligus mengantisipasi hoax.

Lebih jauh, menjelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019, ilmu intelijen juga dapat digunakan oleh mahasiswa untuk menangkal politik SARA.

"Di tahun politik seperti sekarang, mahasiswa juga punya tugas untuk menangkal politik SARA. Tentu ilmu intelijen menemukan relevansinya di sini," tambah Simon yang merupakan mantan aktivis PMII Cabang Ciputat itu.

Simon juga berharap bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan sosial perlu menjadi peneduh suasana, bukan malah menciptakan kegaduhan.

Rekomendasi Untuk Anda

 "Dalam waktu dekat kita akan menghadapi hajatan pemilu 2019, mahasiswa perlu menjadi pioneer dalam menciptakan suasana aman dan damai. Tangkal gerakan radikalisme, tangkal hoax, tangkal politik SARA, dan ciptakan suasana sejuk," terang Simon disambut tepuk tangan peserta PKL.

Sebagai informasi, acara PKL PMII Cabang Banyuwangi ini diikuti oleh 35 perserta kader PMII se-Jawa Timur dan Bali.

Selain Simon, hadir pula sebagai pemateri Gubernur Terpilih Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Sebagaimana disampaikan Ketua Panitia Robith Haris Sauqi bahwa salah satu landasan pemikiran digelarnya Kolokium Radikalisme & Pelatihan Kader Lanjut (PKD) juga berangkat dari sejumlah peristiwa mutakhir di Indonesia. Salah satunya adalah adanya gerakan terorisme di Subabaya beberapa waktu lalu.

Bom bunuh diri meledak di Surabaya. Targetnya adalah gereja dan aparat kepolisian. Setelah ditelusuri, salah satu pelaku bom bunuh diri merupakan keluarga yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi.

"Bom di Surabaya meyedihkan sekaligus tamparan keras bagi masyarakat Banyuwangi, khususnya bagi para aktivis pergerakan PMII Cabang Banyuwagi. Itulah mengapa isu radikalisme menjadi salah satu perhatian kami dalam kegiatan ini," terangnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas