Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Orangutan Sumatera Disita BBKSDA dari Seorang Pejabat di Aceh

YOSL-OIC asal Medan dan BBKSDA Aceh bersama pihak kepolisian melakukan evakuasi orangutan yang diketahui berusia 2 tahun tersebut

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Orangutan Sumatera Disita BBKSDA dari Seorang Pejabat di Aceh
Dok BKSDA
Orangutan Sumatera yang diselamatkan dari salah seorang warga di Kota Aceh, saat berada di Kantor YOSL-OIC di Jalan Bunga 

Laporan Wartawan Tribun Medan  M Andimaz Kahfi

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN  - Seekor orangutan berhasil disita dari seorang pejabat pemerintah di salah satu instansi di Kota Aceh.

Orangutan Sumatera itu selama dipelihara dan mendapat ‎perlakukan layaknya seperti seorang manusia yakni diberikan makanan berupa nasi, lauk pauk dan sisa makanan dari pemiliknya.

Akibatnya orangutan itu menjadi kekurangan nutrisi.

Mendapat informasi tersebut, ‎petugas Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) asal Medan dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Aceh langsung bertindak cepat.

YOSL-OIC asal Medan dan BBKSDA Aceh bersama pihak kepolisian, kemudian melakukan evakuasi orangutan yang diketahui berusia 2 tahun tersebut.

Orangutan yang diberi nama ‎Sapto itu, dievakuasi dari rumah majikannya di kawasan Gampong Paya, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh, Selasa 22 Januari 2019.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketua Yayasan (YOSL-OIC) Panut Hadisiswoyo mengatakan orangutan itu, dibeli pejabat tersebut dari seorang warga di sana. Jadi memang dari ladang dibelinya.

"Kemudian Orangutan Sumatera ini dibawa ke rumah. Dibeli karena orangutan lucu," kata Panut, Rabu (23/1/2019).

Baca: Masih Ada Harapan Bagi Masa Depan Orangutan di Kalimantan

‎Pemilik kabarnya sempat menolak jika Sapto disita namun akhirnya luluh setelah dijelaskan jika Orangutan adalah satwa dilindungi.

Panut menambahkan pemilik mengajukan syarat. Ia meminta ganti rugi uang perawatan selama orangutanbersamanya.

"Hal seperti ini memang kerap terjadi saat kita melakukan penyitaan. Karena mereka mengira senang sekali memelihara Orangutan. Dianggap lucu saat kecil," terangnya.

Walaupun diperlakukan secara manusiawi. Namun, kondisi orangutan berjenis jantan itu, memprihatinkan.

Sapto ditempatkan di sebuah kandang ayam.

Bersebelahan dengan ayam yang dijual karena sang pemilik juga punya usaha ayam potong.

Sampai akhirnya, setelah perbincangan alot, akhirnya pemilik bersedia melepaskan Sapto.

Orangutan berusia 2 tahun ini, diserahkan dan dibawa sekitar pukul 17.00 WIB menuju Kota Medan.

Berdasar keterangan yang didapat, Sapto setiap malamnya tidur bersama anak pemilik di dalam rumah dan hanya saat siang saja Sapto dimasukkan ke kandang.

"Itu sebenarnya sangat berbahaya. Karena orangutan adalah satwa liar," sebut Panut.

Dokter hewan dari YOSL-OIC, Zulhilmi mengatakan Sapto akan direhabilitas di tempat karantina The Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) di Batumbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang.

"Kita akan periksa kesehatan Sapto secara panjang terlebih dahulu. Karena kondisinya malnutrisi. Asupan makanannya sangat sedikit," tutup Zulhilmi. (cr9/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas