Prada DP Bersama Korban Pesan Kamar Hotel Pakai Nama Samaran
Terungkap dalam sidang, Prada DP pesan kamar di penginapan pada Rabu 8 Mei 2019 sekitar pukul 02.00 WIB bersama Vera Oktaria
Editor:
Imanuel Nicolas Manafe
TRIBUNNEWS.COM - Sidang kasus pembunuhan disertai mutilasi kasir minimarket Vera Oktaria dengan terdakwa Prada DP kembali digelar di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (8/8/2019).
Dalam sidang tersebut, Oditur menghadirkan tiga saksi untuk dimintai keterangan.
Seluruh saksi tersebut merupakan pegawai dan pemilik penginapan Sahabat Mulya di Kabupaten Musi Banyuasin, tempat Prada DP mengeksekusi kekasihnya.
Saat itu, Prada DP mengaku sebagai warga Karang Agung dan bernama Doni yang ingin bermalam karena kelelahan.
Arafiq alias Nopik yang merupakan pejaga malam penginapan Sahabat Mulya mengatakan, terdakwa dan korban datang dengan menggunakan sepeda motor Honda Beat warna merah muda.
Saat itu, Arafiq yang sedang tertidur di ruang kasir dibangunkan oleh Prada DP setelah pintu kaca ruangan diketuk.
"Saya langsung bangunkan Wiwin (kasir) karena ada yang pesan kamar," kata Arafiq.
• Prada DP Sempat Ajak Serli Kabur dan Sempat Lihat Pesan Terakhir Vera Oktaria Sebelum Dibunuh
• FAKTA Anggota TNI Pratu DAT Jual Amunisi ke OPM, Ditangkap Saat Sedang Datang ke Acara Kedukaan
Prada DP akhirnya memilih jenis kamar penginapan yang akan dia tempati.
Arafiq lalu keluar untuk memantau situasi luar.
Ketika itu juga dia melihat korban Vera Oktaria sedang berada di atas motor.
"Korban pakai baju hitam, wajahnya saya tidak ingat karena sudah malam. Setelah itu langsung dipanggil terdakwa mereka masuk berdua ke kamar," ujarnya.
Sedangkan Wiwin Safitri, kasir penginapan yang juga anak pemilik dalam kesaksiannya mengatakan, pada malam itu ia tak meminta kartu identitas Prada DP karena sudah terlalu malam.
Sehingga ia pun hanya meminta terdakwa untuk mengisi buku tamu.
"Saya yang mencatatnya, namanya Doni pada waktu malam memesan," kata Wiwin.
Setelah memesan kamar, korban Vera Oktaria yang ada di halaman penginapan pun dipanggil oleh Prada DP untuk masuk.
Keduanya lalu menuju kamar 06 yang terletak di lantai dua penginapan.
"Yang perempuan memakai baju hitam, dia (Prada DP) pakai topi. Mereka sewa kamar kipas harganya Rp 150.000," ujarnya.
Tanpa menaruh curiga, Wiwin langsung kembali tidur ke kamar.
Namun, ia terkejut, pada Jumat 10 Mei 2019 Nurdin yang merupakan suaminya mengabarkan bahwa dia mencium bau busuk di kamar 06 yang ditempati oleh Prada DP dan Fera.
"Kami panggil RT dan RW lalu menghubungi polisi. Ketika dibuka baru tahu ada mayat perempuan. Saat itu dia (Prada DP) sudah tidak ada," ungkapnya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Sewa Kamar Lokasi Eksekusi Kekasihnya, Prada DP Gunakan Nama Doni
Simpan potongan di koper
Terungkap jika usai mendapatkan masukan dari Imam Satria untuk membakar mayat korban Vera Oktaria, Prada DP dengan tenang meninggalkan penginapan Sahabat Mulia Sungai Lilin.
Sebelumnya Prada DP sempat panik karena bingung membuang mayat Vera Oktaria, bahkan sempat membeli tiga tas dan satu koper, untuk membawa mayat tersebut dan membuangnya satu tempat.
Namun karena di penginapan itu banyak orang dan resepsionis serta security berjaga 24 jam, membuat Prada DP makin panik, terlebih lagi mayat Vera Oktaria yang sudah dimutilasi itu memang tidak muat masuk dalam satu atau dua tas saja.
Namun setelah bertemu Imam Satria, maka Prada DP merasa lega dan dengan tenang meninggalkan kamar.
Sebelum menginap Prada DP ternyata sudah mengaburkan identitas baik itu masuk ke penginapan maupun menyewa mobil dengan menggunakan nama Doni.
Baca: Pembunuh Gadis Cantik Lulusan IPB Ternyata Sopir Angkutan, Apa Motifnya?
Baca: Terjadi Lagi Prostitusi Nyeleneh di Jatim, Suami Tonton Istri Kencan Dengan Pelanggan
Terungkap dalam sidang ke-3 di Pengadilan Militer Prada DP, Kamis (8/8/2019) itu, bahwa Saksi pertama yang diperiksa adalah Arifik seorang penjaga malam yang bekerja di Sahabat Mulia tak banyak informasi yang diketahui. Namun hal-hal penting tentang keberadaan Prada DP di hotel tersebut benar adanya.
Namun, pada saksi kedua yang memberikan kesaksian dalam sidang tersebut ialah Wiwin Safitri. Istri dari Nurdin tersebut yang berhadap langsung dengan Prada DP pada saat memesan.
"Datang langsung bertemu saya menggunakan pakaian abu-abu (Prada DP) dan saya tawar brosur. Dia langsung membayar kepada saya, karena harga kamar 150.000 rupiah dan uangnya 200.000 rupiah saya bilang kembaliannya besok saja. Namun saat memberikan identitas nama dan alamatnya. Ia mengaku bernama Doni yang pulang ke B13 Karang Agung,"ujarnya saat memberikan kesaksian.
Kemudian mereka diberikan kunci kamar bernomor 06 yang fasilitasnya tanpa AC atau memakai kipas angin. Saat itu dirinya bertindak sebagai kasir sampai saat kejadian. Karena kasirnya tersebut sedang pulang kampung.
Dari keterangannya pada saat Prada DP memesan kamar hanya satu yang tak terisi dari 15 kamar yang ada dan gudang yang berada didekatnya tak ada alat pemotong. Hanya ada perlengkapan kebersihan beserta pembersihnya.
Usai melakukan pembunuhan terhadap kekasihnya Vera Oktaria, Prada DP terlihat kebingungan, bagaimana menghilang jejak.
Baca: Jadwal Timnas U18 Indonesia di Piala AFF U18 2019, Live Streaming SCTV, Sore Ini
Baca: Selangkah Lagi, Inter Milan Dapatkan Romelu Lukaku Dengan Harga Rp 1,3 Triliun
Baca: Devaluasi Yuan, Waspada Banjir Produk Impor
Baca: Jelang Manchester United vs Chelsea Pekan Perdana Liga Inggris, Juan Mata Inginkan Kemenangan
Maka itu tepatnya pada 8 Mei 2019, pagi usai menghabisi Vera Oktaria di kamar Penginapan Sahabat Mulia Sungai Lilin Prada DP terlihat panik.
Terungkap dalam persidangan itu, Prada DP pada Pukul 06.00, Prada DP kemudian berpakaian dan keluar dari kamar dan menuju teras belakang penginapan tersebut.
Terlihat pula bahwa Prada DP mondar-madir, lalu masuk ke gudang yang tak ada orang di sana.
Di dalam gudang tersebut, Prada DP kemudian sebuah gergaji besi bekas yang tidak bergagang.
Dengan cepat Prada DP lalu mengambil gergaji itu dan membawa ke kamarnya lagi.
Temui Dodi dan Sempat Beli Tiga Tas dan 1 Koper untuk Buang Mayat Vera
Dia kemudian nekat memotong mayat Vera Okataria di dalam toilet kamar yang dia tempati.
"Di dalam kamar terdakwa melepas pakaiannya dan hanya menggunakan celana dalam dan selanjutnya mambawa masuk mayat Vera ke dalam kamar mandi," kata Oditur.
Selanjutnya, tanpa membuang waktu, Prada DP lalu membawa tubuh tak bernyawa Vera Oktira di samping kloset.
"Terdakwa lalu memotong siku tangan kanan korban dengan gergaji yang diambilnya dari gudang. Sebelum tangan korban putus, gergaji yang digunakan patah," kata Oditur.
Usai melakukan mutilasi itulah, Lantas Prada DP masih kebingungan dan bagaimana melenyapkan mayat Vera Oktaria yang sudah dimutilasi tersebut.
Selanjutnya, pada Pukul 08.00, Prada DP lalu keluar kamar dengan membawa patahan gergaji besi dibungkus pakaian dengan tas ransel.
Dengan mengendarai sepeda motor milik Vera, Prada DP lalu pergi ke Jembatan Sungai Lilin. Di sanalah Prada DP lalu membuang pakaian dan gergaji besi itu.
Setelah itu Prada DP pergi ke rumah Dodi. Belakangan terungkap Dodi merupakan paman terdakwa Prada DP.
Pada Dodi, Prada DP lalu mengaku ia telah membunuh Vera Oktaria.
Baca: Harga Emas Dunia Menguat
Baca: Devaluasi Yuan, Waspada Banjir Produk Impor
Baca: Jelang Manchester United vs Chelsea Pekan Perdana Liga Inggris, Juan Mata Inginkan Kemenangan
Prada DP lalu memberi uang pada Dodi untuk membeli plastik besar untuk membuang mayat Vera.
Setelah mendapatkan kantong plastik itu, Prada DP lalu berangkat ke pasar Sungai Lilin.
"Terdakwa membeli jeruk dan salak 1 kilogram dan gergaji besi Rp 50 ribu dan kembali ke penginapan," katanya.
Sampai di penginapan, Prada DP lalu memberi salak tadi pada petugas resepsionis.
Ia lalu masuk kamar 06 lagi. Ia lalu membuka pakaiannya dan menggergaji tubuh korban lagi.
Ia lalu melanjutkan memotong siku Vera sampai putus.
Ia lalu melanjutkan menggergaji bagian tubuh lain tapi kemudian gergaji itu kembali patah.
Bingung, Prada DP lalu menelepon Teguh dan meminta dibelikan gergaji tapi ditolak.
Prada DP lalu pergi ke pasar Sungai Lilin lagi.
Di sana ia lalu membeli tiga ransel.
Namun sesampai di hotel Prada DP merasa tiga tas tadi kurang besar dan ia kembali ke Pasar Sungai Lilin lagi untuk membeli koper.
Prada DP lalu mengukur tubuh Vera dengan koper. Ia lalu meletakkan potongan tangan Vera ke koper itu.
Ia lalu kembali lagi ke Pasar Sungai Lilin untuk membeli koper yang lebih besar sekitar pukul 10.00.
Setelah itu ia kembali kemar dan meletakkan koper itu.
Prada DP merasa ia sudah tiga kali bolak-balik keluar lalu ke kamar. Untuk itu ia menutupi kecurigaan orang dengan berpura-pura menonton televisi.
Ia lalu makan jeruk yang dibelinya tadi sambil tidur-tiduran.
Pukul 15.00, Prada DP lalu keluar membawa baju seragam indomaret milik Vera dan pakaian barang-barang lainnya.
Pakaian itu lalu dibuang dari atas jembatan lagi.
Prada DP lalu membeli gergaji kayu, kapak dan cutter.
Ia lalu ke rumah Teguh untuk menitipkan ponsel milik korban dan miliknya.
Bingung Hilangkan Mayat Vera Oktaria
Teguh dan Prada DP lalu menelepon orang bernama Imam. Saat ini Imam sudah meninggal dunia.
Prada DP bertanya bagaimana cara menghilangkan mayat. Imam lalu memberikan ide, bakar saja.
Prada DP lalu menyuruh Imam untuk membeli perlengkapan dengan uang Rp 70 ribu.
Setelah memndapatkan perlengkapan, Prada DP lalu pergi lagi ke penginapan Sahabat Mulia.
Kemudian sesampai di kamar, Prada DP mulai mngeluarkan racun nyamuk berbentuk spiral dan merakit racun nyamuk itu dengan korek api agar jadi seperti pemicu kebakaran.
Ia lalu mengangkat mayat Vera dan meletakkkannya di atas kasur. Ia menyiram sedikit mayat Vera dengan bensin.
Ia lalu meletakkan barang-barang yang sudah disiram dengan bensin ke atas tubuh Vera.
Namun saat memulai proses untuk membakar, Prada DP tiba-tiba mengaku kasihan. Ia kemudian menyiram racun nyamuk menyala yang jadi pemicu itu dengan air.
Pukul 17.30, Prada DP kembali ke rumah Teguh dan kembali bertemu dengan Imam.
Baca: Tikus Berkeliaran di Family Mart Jepang Jadi Viral Ditonton Lima Juta Kali
Baca: Update Bursa Transfer Liga Inggris: 7 Transfer yang Potensial Deal Jelang Deadline Day
Baca: Kalimat Eden Hazard Setelah Akhirnya Pecah Telur di Real Madrid
"Imam lalu bilang, masa sudah diajarin masih nggak bisa," kata Imam saat itu.
Prada DP lalu kembali ke kamar penginapan. Ia lalu membakar lagi racun nyamuk itu.
Setelah itu Prada DP meninggalkan kamar itu dan tak kembali lagi.