Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Jualan Kerupuk Menjadi Pilihan Usman untuk Menjalani Kehidupan 10 Tahun Terkahir, Ini Alasannya

Berbekal tongkat yang ia gunakan untuk meraba-raba jalan, setiap harinya Usman menjajakan kerupuknya di jalan Raya Ciputat-Pamulang .

Jualan Kerupuk Menjadi Pilihan Usman untuk Menjalani Kehidupan 10 Tahun Terkahir, Ini Alasannya
Wartawan Magang Tribunnews Meliana
Usman, Penyandang Tunanetra berjualan kerupuk di Ciputat Tangerang Selatan 

Laporan Wartawan Magang Meliana
TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG SELATAN - Berbekal tongkat yang ia gunakan untuk meraba-raba jalan, setiap harinya Usman menjajakan kerupuknya di jalan Raya Ciputat-Pamulang .

Usman, Laki-laki asal Padang ini sudah 10 tahun menjajakan dagangan kerupuknya di daerah Ciputat sampai Pamulang.

Alasan ia memilih berjualan kerupuk karena memiliki keunggulan tahan lama dan tidak gampang busuk serta keuntungan yang didapat lumayan.

Dengan mantap Usman berjalan sambil berteriak, "Kerupuk.... kerupuk...!", saat ditemui di depan apartemen Green Like View Ciputat, Tangsel, Kamis(10/10/2019).

Harga kerupuk yang ia jual berkisar dari Rp 8 ribu untuk ukuran platik sedang sedangkan Rp. 14 Ribu ukuran plastik besar.

Usman biasa berangkat dari rumahnya di belakang RS Sari Asih Ciputat. Ia mulai pukul 8 pagi dan pulang sekitar pukul 5 sore. Dalam sehari, tidak banyak keuntungan yang didapatkannya, rata-rata hanya Rp. 50 ribu saja.

"Penghasilan paling banyak Rp. 100 ribu sampai Rp. 200 ribu, tapi jarang sekali. Pernah juga seharian hanya dapat Rp. 2 ribu," ungkapnya.

Usman memiliki tageline sendiri dalam berjualan, "Cepat habis cepat pulang," jelasnya. "Konsekuensinya lambat habis lambat juga pulangnya," sambungnya.

Laki-laki ini dalam menjalani profesinya paling senang jika ada pembeli yang memborong habis dagangannya.

"Panas, capek dan belum ada penglaris, itulah dukanya," ucap Usman.

Tiba-tiba ada sepasang suami istri memberi Usman uang, namun ia melonaknya.

Menurutnya itulah salah satu dukanya. Masyarakat merasa kasihan kepadanya karena seorang Tunanetra.

Usman menuturkan, masyarakat beranggapan, ketika membeli kerupuk, uangnya untuk bos, sedangkan jika mereka mengasih uang, uangnya untuk dia. Padahal pandangan itu tidak betul juga karena tidak semua penjual kerupuk mempunyai bos.

Contohnya Usman. "Kerupuk yang saya jual ini dibeli oleh istri saya yang bisa melihat di pabrik daerah Bintaro, Tangsel. Ia juga merangkap sebagai menteri keuangan dan menteri transportasi saya", jelasnya.

Editor: Sugiyarto
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas